Penyakit skoliosis dapat berkembang sedari bayi atau anak usia dini. Namun, usia awal timbulnya kelainan ini adalah 10-15 tahun dan bisa terjadi pada laki-laki maupun perempuan. Perempuan biasanya membutuhkan perawatan khusus dibandingkan dengan yang terjadi pada laki-laki.

Kelainan tulang belakang memiliki tingkat keparahannya yang tidak sama dan gejalanya pun berbeda tergantung tingkat keparahannya itu. Menurut WHO (World Health Organization), pada 3% warga di seluruh dunia memiliki resiko besar terkena kelainan tulang belakang. Sementara di Indonesia sebanyak 3 – 5%.

skoliosis
skoliosis

Pengertian Skoliosis

Skoliosis adalah istilah yang kita gunakan untuk mengacu pada kelengkungan lateral (ke samping) tulang belakang yang tidak bisa lagi diperbaiki sepenuhnya.

Dengan adanya kelengkungan tersebut, gerakan tulang punggung menjadi berkurang pada bagian yang terkena skoliosis sehingga biasanya menghalangi tulang belakang dari menjadi lurus secara aktif.

Kelengkungan lateral (ke samping) seperti itu dibarengi dengan terpelintirnya tulang-tulang tubuh, yang menghasilkan punuk tulang rusuk atau tonjolan pinggang.

Bentuk tulang belakang ini seperti huruf S atau C. Gangguan kesehatan ini bisa didiagnosis pada masa kanak-kanak atau remaja awal. Kurva normal tulang belakang terjadi di daerah serviks, toraks dan lumbar dalam apa yang disebut bidang “sagital”.

Kelainan tulang belakang sering didefinisikan sebagai kelengkungan tulang belakang dalam bidang “koronal” (frontal). Sementara tingkat kelengkungan diukur pada bidang koronal. Skoliosis sebenarnya merupakan masalah tiga dimensi yang lebih kompleks yang melibatkan bidang-bidang berikut:

  • Bidang koronal
  • Bidang sagital
  • Bidang aksial

Bidang koronal adalah bidang vertikal dari kepala sampai kaki dan sejajar dengan bahu. Bidang ini membagi tubuh bagian depan (anterior) dan bagian belakang (pasterior). Lalu, bidang sagital adalah yang membagi tubuh menjadi bagian kanan dan kiri. Sementara bidang aksial sejajar dengan bidang tanah dan pada sudut kanan bidang koronal dan sagital.

Umumnya, kelainan tulang ini dimulai dari gejala ringan, tapi seiring pertambahan usia bisa berkembang lebih parah, terutama pada wanita. Jika semakin parah, maka dapat mengakibatkan banyak gangguan kesehatan seperti penyakit jantung, kelemahan tungkai hingga gangguan paru-paru.

Penyebab Skoliosis

Perlu anda ketahui bahwa kelainan tulang belakang dapat diklasifikasikan menjadi idiopatik, kongenital (bawaan lahir), atau neuromuskuler. Skoliosis idiopatik remaja adalah jenis yang paling umum dan biasanya didiagnosis selama pubertas.

Skoliosis idiopatik memang paling umum ditemukan pada usia anak-anak dan remaja. Pada masa puber, terjadi pertumbuhan tulang dan penambahan tinggi badan sangat pesat sehingga skoliosis dapat bertambah dengan cepat. Tetapi bisa juga seseorang baru menyadari kondisi skoliosis di usia dewasa.

Biasanya timbul pertanyaan, apakah skoliosis ini memang baru saja muncul di usia dewasa, ataukah terlambat dideteksi saat masih anak-anak atau remaja. Jawabannya: keduanya bisa terjadi.

  • Skoliosis Idiopatik Remaja yang terlambat dideteksi

Anak-anak dan remaja yang menderita skoliosis idiopatik jarang mengeluhkan nyeri. Hal ini juga yang menyebabkan seseorang bisa saja tidak menyadari adanya skoliosis sampai usia dewasa. Tingkat keparahan kurva juga berperan dalam deteksi dini skoliosis. Skoliosis ringan-sedang bisa saja tidak menimbulkan kelainan fisik yang cukup menonjol untuk menjadi perhatian orang tua.

  • Skoliosis De Novo yang baru saja muncul

Istilah “De Novo” artinya “baru”. Skoliosis De Novo adalah skoliosis yang baru pertama kali muncul pada usia dewasa, disebabkan proses penuaan (proses degeneratif pada tulang belakang). Umumnya muncul pada usia di atas 40 – 50 tahun.

Dengan bertambahnya usia, terjadi proses penuaan pada sendi-sendi dan ligamen-ligamen tulang belakang. Osteoporosis (pengeroposan tulang) juga dapat berperan dalam terjadinya skoliosis de novo.

Berbeda dengan skoliosis idiopatik yang jarang menimbulkan keluhan nyeri pada anak-anak dan remaja, penderita skoliosis de novo sering mengeluhkan nyeri punggung bawah yang cukup mengganggu. Hal ini disebabkan menurunnya stabilitas tulang belakang dan kekuatan otot punggung pada orang tua.

Skoliosis kongenital terjadi akibat malformasi embriologis dari satu atau lebih tulang belakang dan dapat terjadi di lokasi tulang belakang manapun. Kelainan vertebral menyebabkan kelengkungan dan kelainan bentuk tulang belakang lainnya. Karena satu area tulang belakang tumbuh lebih lambat daripada yang lainnya.

Geometri dan lokasi kelainan menentukan tingkat perkembangan skoliosis saat anak tumbuh. Karena kelainan ini hadir saat lahir, skoliosis kongenital biasanya terdeteksi pada usia yang lebih muda daripada skoliosis idiopatik. Sementara skoliosis neuromuskuler mencakup kelainan tulang belakang yang sekunder akibat penyakit neurologis atau otot.

Jenis skoliosis ini berhubungan dengan cerebral palsy, trauma sumsum tulang belakang, distrofi otot, atrofi otot tulang belakang dan spina bifida. Jenis kelainan tulang ini berkembang lebih cepat daripada skoliosis idiopatik dan seringkali membutuhkan perawatan bedah.

Bisa disimpulkan penyebab skoliosis adalah:

  • Infeksi tulang belakang,
  • Keausan bantalan dan sendi tulang belakang karena pertambahan usia
  • Karena cedera tulang belakang
  • Penyakit bawaan dari lahir
  • Gangguan sistem syaraf dan otot

Baca artikel ini untuk mengenal lebih jauh tentang apa itu skoliosis idiopatik

Gejala Skoliosis

Ada beberapa gejala scoliosis yang bisa anda waspadai, diantaranya:

  • Nyeri punggung
  • Bahu tidak rata, baik itu satu atau kedua bilah bahu mungkin menonjol
  • Kepala tidak berpusat langsung di atas panggul
  • Iga memiliki ketinggian yang berbeda
  • Pinggang tidak rata
  • Perubahan pada tekstur kulit yang menutupi perubahan tulang belakang seperti munculnya lesung, bercak berbulu dan kelainan warna.
  • Seluruh tubuh bersandar ke satu sisi

Dalam satu studi, sekitar 23 persen pasien dengan skoliosis idiopatik mengalami nyeri punggung saat diagnosis awal. Karena perubahan bentuk dan ukuran toraks, scoliosis idiopatik dapat memengaruhi fungsi paru. Pengamatan terbaru menunjukkan bahwa pasien penyakit skoliosis idiopatik ringan sampai sedang menunjukkan penurunan fungsi paru.

Diagnosa Skoliosis

Skoliosis biasanya didiagnosa melalui pemeriksaan fisik, x-ray, radiografi tulang belakang, CT scan atau MRI. Kurva diukur dengan Metode Cobb dan didiagnosis berdasarkan tingkat keparahannya dengan jumlah derajat. Semakin banyak jumlah derajatnya, semakin parah tingkat kelainan tulang belakang yang dialami.

Diagnosis skoliosis yang positif diketahui berdasarkan kelengkungan koronal lebih dari 10 derajat yang diukur pada radiograf posterior-anterior. Secara umum, kurva dianggap signifikan jika lebih besar dari 25 hingga 30 derajat. Kurva yang melebihi 45 hingga 50 derajat dianggap parah dan seringkali membutuhkan perawatan yang lebih agresif.

Baca “Resiko dan Opsi Manajemen Skoliosis terbaik yang Anda miliki”.

Penggunaan X-ray

Merupakan suatu aplikasi radiasi untuk menghasilkan gambar bagian tubuh yang dapat menunjukkan struktur tulang belakang dan garis besar sendi. Sinar-X tulang belakang diperoleh untuk mencari kemungkinan penyebab nyeri lainnya, yaitu infeksi, patah tulang, kelainan bentuk, dan lain-lain.

Pemindaian Tomografi Terkomputasi (CT scan atau CAT scan)

Selanjutnya, diagnosa penyakit skoliosis dilakukan dengan CT scan yang merupakan pemindaian tomografi terkomputasi. Gambar diagnostik yang dibuat setelah komputer membaca sinar-X, menunjukkan bentuk dan ukuran saluran tulang belakang, isinya dan struktur di sekitarnya. Aplikasi ini sangat baik memvisualisasikan struktur bertulang.

Magnetic Resonance Imaging (MRI)

Tak hanya itu, dokter juga mendiagnosa kelainan tulang belakang dengan MRI. Itu merupakan tes diagnostik yang menghasilkan gambar tiga dimensi dari struktur tubuh menggunakan magnet yang kuat dan teknologi komputer. Dari tes ini menunjukkan sumsum tulang belakang, akar saraf dan daerah sekitarnya, serta pembesaran, degenerasi dan kelainan bentuk.

Diagnosa Skoliosis Pada Anak-anak

Skoliosis pada anak-anak diklasifikasikan berdasarkan usia:

• Infantil (0 hingga 3 tahun)

• Remaja (3 hingga 10 tahun)

• Remaja (usia 11 dan lebih atau sejak permulaan pubertas hingga maturitas tulang).

Scoliosis idiopatik umum dialami selama masa remaja. Tergantung pada tingkat keparahan dan usia anak, penyakit skoliosis dikendalikan dengan pengamatan dan perawatan dokter yang ketat, bahkan operasi.

Pada anak-anak dengan skoliosis kongenital, diketahui ada peningkatan kejadian kelainan bawaan lainnya. Kondisi ini sering dikaitkan dengan sumsum tulang belakang (20%), sistem genitourinari (20 – 30%) dan jantung (10 – 15%). Saat diagnosa, seharusnya juga meliputi evaluasi sistem neurologis, genitourinari dan kardiovaskular.

Diagnosa Skoliosis Pada Orang Dewasa

Kelainan tulang belakang yang terjadi atau didiagnosis pada masa dewasa berbeda dengan skoliosis masa kanak-kanak. Itu karena penyebab dan tujuan pengobatan berbeda pada pasien yang telah mencapai kematangan kerangka.

Klasifikasi penyakit skoliosis pada orang dewasa berdasarkan kategori:

  • Pasien skoliosis dewasa yang dirawat dengan operasi saat masih remaja.
  • Orang dewasa yang tidak menerima perawatan saat masih muda.
  • Orang dewasa dengan skoliosis degeneratif.

Dalam sebuah studi menunjukkan bahwa sekitar 40% pasien skoliosis dewasa mengalami perkembangan. Dari partisipan itu, sebanyak 10% menunjukkan perkembangan yang signifikan, sedangkan 30% lainnya mengalami perkembangan yang lamban (-1 derajat/ tahun).

Skoliosis degeneratif paling sering terjadi pada tulang belakang lumbar (punggung bawah) dan lebih sering menyerang usia 65 tahun ke atas. Seringkali disertai dengan gejala stenosis tulang belakang, atau penyempitan kanal tulang belakang. Yang menjepit saraf tulang belakang dan membuatnya sulit untuk berfungsi secara normal.

Nyeri punggung akibat gejala skoliosis degeneratif biasanya dimulai secara bertahap dan dikaitkan dengan aktivitas yang dilakukan pasien. Kelengkungan tulang belakang dalam bentuk penyakit skoliosis relatif kecil. Sehingga pembedahan hanya disarankan jika metode konservatif gagal mengurangi rasa sakit akibat kondisi tersebut.

Pengobatan Skoliosis

Pengobatan penyakit skoliosis berdasarkan tingkat keparahan, gejala skoliosis dan jenisnya. Berikut ini beberapa gangguan yang bisa menentukan pengobatan skoliosis:

  • Kematangan tulang belakang – apakah tulang belakang pasien masih tumbuh dan berubah?
  • Derajat dan tingkat kelengkungan – seberapa parah kurva dan bagaimana hal itu memengaruhi gaya hidup pasien?
  • Lokasi kurva – menurut beberapa ahli, kurva toraks lebih mungkin untuk berkembang daripada kurva di daerah tulang belakang lainnya.
  • Kemungkinan perkembangan kurva – pasien dengan kurva besar sebelum pertumbuhan remaja maka, lebih cenderung mengalami perkembangan kurva lebih cepat.

Setelah variabel-variabel ini dinilai, opsi perawatan penyakit scoliosis berikut yang mungkin direkomendasikan:

Pengamatan

Pada banyak anak dengan kelainan tulang belakang kurva tulang belakang cukup ringan sehingga tidak memerlukan perawatan. Namun, jika dokter khawatir bahwa kurva akan meningkat, maka akan memeriksa anak setiap 4 – 6 bulan selama masa remaja.

Pada orang dewasa dengan scoliosis, sinar-X biasanya direkomendasikan setiap lima tahun sekali, kecuali gejalanya semakin memburuk. Bila rutin memeriksakan kondisi, maka dokter lebih mudah dalam mendiagnosa dan mengobati kelainan tulangnya.

Terapi Skoliosis Pada Anak-anak

Pengobatan skoliosis pada anak, bisa dilakukan dengan terapi. Sebelum terapi skoliosis pada anak, dokter akan melakukan rontgen dulu untuk mengamati tingkat keparahan yang dialami. Setelah itu, dokter baru memutuskan pengobatan yang tepat. Jika kondisinya parah, dokter akan memberikan penyangga tulang belakang/Brace Skoliosis.

Memang tidak bisa meluruskan lagi kondisi tulang belakang, dapat mencegah lengkungan atau keparahan scoliosis yang diderita. Bentuk penyangga ini disesuaikan bentuk tubuh, sehingga tidak ketara saat memakai pakaian. Letak penyangga ini di bawah lengan, bawah punggung dan pinggul dan sekitar tulang rusuk.

Dokter akan menyarankan anak penderita scoliosis mengenakan penyangga setiap hari, kecuali ketika olahraga. Penggunaaan dihentikan ketika tulang belakang berhenti tumbuh. Itu pada saat:

  • Pada anak perempuan, 2 tahun setelah mengalami menstruasi.
  • Pada anak laki-laki, saat sudah tumbuh kumis atau jenggot.
  • Ketika sudah tidak bisa bertambah tinggi badan lagi.

Pemilihan dan Penggunaan Brace Skoliosis

Salah satu rekomendasi brace skoliosis untuk di gunakan dalam terapi skoliosis untuk anak-anak adalah brace skoliosis GBW.

Kenapa penggunaan brace skoliosis GBW sangat efektif sedangkan brace tipe lainnya kurang efektif? Jawabannya adalah teknologi dan konsep yang digunakan Brace GBW sangat mutakhir dan menggunakan pendekatan dan pengertian dokter Bedah Ortopedi di Jerman, dr. Hans Rudolf Weiss, dalam mengkoreksi Skoliosis.

Terbukti penderita skoliosis pun lebih menyukai menggunakan brace gbw ini dibandingkan dengan brace skoliosis lainnya

Terapi Skoliosis Pada Orang Dewasa

Sedangkan pada orang dewasa, kelainan tulang belakang biasanya menimbulkan rasa nyeri yang sangat. Sehingga, dokter akan memberikan obat pereda nyeri seperti ibuprofen. Jika kondisi lebih parah, dimana penderita merasakan tekanan pada syaraf tulang belakang, maka ada suntikan kortikosteroid.

Skoliosis dan Kehamilan

Skoliosis pada ibu hamil seringkali menjadi salah satu kekhawatiran yang dimiliki oleh pasien skoliosis.

Bahkan banyak pasien yang takut tidak dapat hamil atau kesulitan melahirkan akibat skoliosis yang mereka miliki.

Pada dasarnya setiap kehamilan memiliki resiko, baik dengan ataupun tanpa skoliosis.

Pada artikel berikut ini kami akan menjelaskan berbagai pertanyaan yang sering ditanyakan pasien seputar skoliosis dan kehamilan.

Olahraga Untuk Skoliosis

Gerakan apa saja yang tidak boleh di lakukan oleh penderita skoliosis ? baca disini https://kliniktulangbelakang.com/gerakan-yang-tidak-diperbolehkan-untuk-pasien-skoliosis/

Operasi Skoliosis

Selain dengan terapi pengobatan penyakit skoliosis juga dilakukan dengan operasi. Ada 3 jenis operasi untuk mengatasi kelainan tulang belakang ini, diantaranya:

  • Operasi disektomi: merupakan operasi pengangkatan salah satu cakram tulang belakang yang beertujuan untuk mengurangi tekanan pada syaraf.
  • Operasi laminektomi: merupakan pembedahan untuk mengangkat sebagian tulang belakang yang melengkung. Tujuannya untuk menghilangkan tekanan pada syaraf tulang belakang.
  • Operasi penggabungan tulang: Operasi ini menyatukan dua atau beberapa ruas tulang menjadi satu tulang yang lebih kuat.

Pelaksanaan operasi tulang belakang ini berdasarkan pertimbangan matang oleh dokter berdasarkan pengamatan perkembangan pembengkokan tulang. Operasi skoliosis bisa saja menimbulkan risiko komplikasi yaitu adanya gumpalan darah atau infeksi pada organ lain.

Baca >> Ketahui Efek Samping dan Bahaya Pasca Operasi Skoliosis!

Komplikasi Skoliosis

Adapun komplikasi yang bisa saja muncul kapan saja pada penderita scoliosis adalah:

  • Nyeri penggung yang sangat
  • Adanya kerusakan syaraf tulang belakang
  • Munculnya penyakit paru-paru dan jantung
  • Memperburuk penampilan

Itulah penjelasan lengkap tentang penyakit skoliosis, penyebab, gejala, pengobatan serta komplikasinya. Semoga informasi ini bermanfaat dan nantikan informasi kesehatan lainnya.

Pertanyaan Seputar Skoliosis

Apa itu skoliosis ?

Pertanyaan tentang apa itu skoliosis ini di jelaskan panjang lebar dalam artikel tersebut.

Seseorang dikatakan menderita Skoliosis ketika memiliki kelainan tulang belakang di atas 10 derajat pada gambaran x-ray.

Secara garis besar istilah skoliosis dibagi menjadi struktural dan non-struktural. Skoliosis non-struktural atau fungsional terjadi karena penyebab yang sementara atau yang tidak berhubungan dengan tulang belakang itu sendiri, dan mengakibatkan tubuh membengkok ke samping saja. Sedangkan pada skoliosis struktural, terjadi pembengkokan tulang belakang disertai perputaran (rotasi). Skoliosis yang kita bahas disini adalah skoliosis yang sifatnya struktural.

Skoliosis apa bisa sembuh total ?

Penderita skoliosis bisa sembuh total bahkan tanpa operasi, asal dengan penanganan secara tepat.
Penanganan skoliosis ringan maupun berat ini meliputi penggunaan brace skoliosis yang berkualitas, terapi skoliosis yang tepat, pola makan dan pola hidup keseluruhan penderita. Artikel ini membahas mengenai Penanganan Skoliosis Tepat

Download E-book - Mengenal Skoliosis dan Terapinya

WhatsApp us
Malcare WordPress Security