Skoliosis adalah adanya kebengkokan tulang belakang lebih dari 10 derajat disertai perputaran / rotasi. Secara statistik, angka kejadian skoliosis menurut Asosiasi Orthopedi Amerika mencapai 2,5%-3% dari total populasi.

Demikian pula di negara lain termasuk Indonesia, angka kejadian skoliosis juga cukup tinggi. Namun jumlah yang sangat besar ini belum diimbangi dengan pengetahuan akan deteksi dini yang memadai.

Pentingnya Deteksi Dini Skoliosis Pada Anak

Padahal bila pengetahuan akan deteksi dini skoliosis pada anak semakin cepat dilakukan, maka kita dapat menghindarkan anak dari kecacatan bentuk tulang belakang dan rusuk yang semakin parah.

Dengan deteksi dini, kita bisa melakukan pengobatan secara dini pula, yang apabila dilakukan pada masa pertumbuhan dapat mengkoreksi kelengkungan dan bentuk tubuh dengan sangat baik.

Penanganan yang tepat juga tentunya menghindarkan dari biaya-biaya pengobatan yang sangat besar, serta mengurangi lamanya waktu terapi yang diperlukan dan mendorong kepercayaan diri pada anak.

Deteksi Dini Skoliosis pada Anak

Cara Deteksi Dini Skoliosis

Screening merupakan cara untuk mendeteksi dini suatu penyakit. Screening skoliosis sebaiknya dilakukan saat usia pasien belum memasuki atau baru memasuki masa puber, yaitu dibawah usia 12 tahun.

Deteksi dini skoliosis ini sangat menentukan keberhasilan terapi, karena jika terapi khususnya dengan penggunaan brace dilakukan selama dalam masa pertumbuhan, tulang lebih mudah untuk dikoreksi dan hasil yang didapatkan lebih optimal.

Screening skoliosis dilakukan melalui dua tahap yaitu pengamatan fisik dan pemeriksaan X-ray. Pengamatan fisik dilakukan dengan mengamati punggung anak, dengan melihat tinggi sisi kiri dan kanan pundak dan pinggang Anak dalam posisi berdiri tegak, apakah ada sisi yang lebih tinggi sebelah.

Selain itu juga dengan pemeriksaan yang dikenal dengan Adam’s Test. Untuk memeriksa ini, anak diminta untuk berdiri tegak dengan kaki terbuka selebar pinggang, kemudian membungkuk ke depan, dengan tangan dilepaskan bebas ke bawah.

Perhatikan apakah dari belakang punggung anak Anda terdapat satu sisi yang lebih tinggi / pendek dari sisi lainnya. Bila jawabannya iya, maka anak mungkin memiliki skoliosis. Pemeriksaan fisik ini sangat mudah dilakukan oleh orang tua maupun guru di sekolah.

Deteksi Dini Skoliosis pada Anak

(Gambar scoliosis)

Pemeriksaan Lanjutan Skoliosis setelah Deteksi Dini

Jika ada kecurigaan skoliosis dari pemeriksaan fisik seperti adanya perbedaan tinggi bahu atau penonjolan punuk, maka dilanjutkan dengan pemeriksaan X-ray untuk melihat kondisi tulang belakang.

Pemeriksaan X-ray yang dibutuhkan adalah vertebra thoraco-lumbal AP dalam posisi badan berdiri (erect). Pemeriksaan X-ray dalam posisi berdiri bertujuan agar kita dapat mengukur derajat kurva skoliosis dengan lebih akurat karena jika posisi X-ray pada saat berbaring tubuh kita lebih memanjang.

Pemeriksaan Adam Test. Pemeriksaan ini sangat mudah, posisi berdiri tegak dengan kaki terbuka selebar pinggang, kemudian membungkuk ke depan, dengan tangan dilepaskan bebas ke bawah.

Maka Orang tua harus mengamati dari belakang punggung Anak anda, apakah terdapat satu sisi yang lebih tinggi / pendek dari sisi lainnya?

Bila jawabannya iya, maka Anak Anda positif Scoliosis.

Deteksi Dini Skoliosis pada Anak
Deteksi Dini Skoliosis pada Anak

(Adam Test)

Jangan Terlambat Mendeteksi Skoliosis

Kebanyakan penderita skoliosis apalagi dalam umur remaja tidak mempunyai gangguan atau keluhan apapun, sampai mungkin saudara atau temannya yang bertanya, “Kenapa punggung kamu lebih menonjol sebelah?” atau “Kenapa kamu jalannya miring?”. Karena itu seringkali pasien datang ke dokter saat kondisi mereka sudah parah hingga di atas 60 derajat dengan kondisi tulang iga yang telah berubah bentuk dan memiliki keluhan sesak, nyeri, pegal dll.

Kebanyakan orang tua kaget, sedih dan bingung kenapa tiba-tiba anaknya demikian. Padahal semua ini punya proses, bukan suatu yang tiba-tiba. Tetapi karena kurangnya pengetahuan deteksi dini skoliosis dan pada usia remaja terjadi pertumbuhan yang begitu cepat, menyebabkan kebengkokan skoliosis bertambah dengan cepat. (Baca Rehab Scoliosis)

Oleh karena itu kami berharap setelah membaca artikel ini, Anda mempunyai pengetahuan yang berharga yang bisa membantu Anda dan juga orang di sekitar Anda untuk dapat mendeteksi skoliosis secara dini dan memperoleh pengobatan terbaik.

Beberapa fakta penting yang menyebabkan screening skoliosis pada anak sangat penting antara lain:

  1. Scoliosis merupakan kelainan tulang belakang sebanyak 5% dari populasi nasional
  2. Kesadaran dan Pengetahuan akan scoliosis di masyarakat masih minim.
  3. Penanganan  konservatif non invasif untuk Scoliosis di Indonesia masih banyak yang tidak efektif.
  4. Pasien banyak yang mencari alternatif pengobatan selain operasi
  5. Deteksi dini skoliosis menentukan hasil terapi
  6. Usia dibawah 16 tahun adalah saat tulang masih bisa dikoreksi tanpa operasi dengan hasil yang semakin dini akan semakin maksimal.
  7. Screening yang dilakukan sekolah akan menjadi bagian dari penentuan masa depan anak .

Bagi Anda yang ingin melakukan X-ray/ rontgen ini bisa mengunjungi dokter di klinik, rumah sakit atau fasilitas rontgen lainnya dan meminta foto rontgen vertebra thoraco-lumbal AP dengan posisi berdiri. Setelah pasien diketahui mengalami skoliosis, maka perlu melakukan pemeriksaan rutin minimal setiap 6 bulan sekali. Hal ini untuk mengetahui perkembangan tulang belakang yang dimilikinya.

Sedangkan pasien Spine Clinic Family Holistic yang menjalani program pemakaian brace GBW akan dievaluasi setiap 3 bulan masa terapi yang meliputi pemeriksaan foto badan dan pemeriksaan X-ray setiap 6 bulannya. Pasien yang melakukan pemeriksaan secara rutin akan mendapatkan penanganan yang lebih baik selama perawatan karena perkembangan kondisi skoliosis dapat berubah. 

WhatsApp us
Deteksi Dini Skoliosis pada Anak