Spondilosis adalah kondisi degeneratif yang memengaruhi tulang belakang, khususnya pada tulang belakang leher (servikal) dan bagian bawah punggung (lumbal).

Meskipun seringkali dianggap sebagai bagian normal dari proses penuaan, spondilosis dapat menyebabkan gejala yang mengganggu dan memerlukan perhatian medis.

Spondilosis tidak dapat disembuhkan sepenuhnya. Namun, gejalanya dapat dikelola melalui berbagai metode pengobatan dan perubahan gaya hidup. Yuk, baca sampai akhir untuk cara penanganannya!

spondilosis atau spondylosis

Apa itu Spondilosis?

Spondilosis, kadang-kadang disebut sebagai osteoarthritis tulang belakang, adalah kondisi di mana diskus, sendi, tulang dan ligamen pada tulang belakang mengalami degenerasi atau aus.

spondilosis atau spondylosis

Diskus intervertebralis / bantalan tulang belakang mengalami perubahan struktural seiring bertambahnya usia. Di dalam bantalan terdapat inti yang disebut nukleus pulposus, yang terdiri dari kandungan kolagen dan air serta protein khusus yang disebut proteoglikan. Inti ini dikelilingi struktur pelindung yang disebut annulus fibrosus, yang sayangnya melemah kekuatannya akibat penuaan. Selain itu kandungan air pada inti juga menurun sehingga kemampuan shock absorber menurun.

Sendi antar tulang belakang / facet joints yang dilapisi oleh tulang rawan dapat mengalami degenerasi karena tulang rawan yang menipis sehingga terjadi gesekan antar segmen tulang belakang. Selain itu dapat terjadi degenerasi pada tulang sehingga terbentuk osteofit / spur yang akan mengganggu aliran darah ke tulang belakang. Serta proses degenerasi pada ligamen mengakibatkan kekakuan.

Proses degeneratif ini dapat terjadi dengan berbagai tingkat keparahan dan di tingkat / level tulang belakang, baik di servikal (leher), thorak (punggung tengah), lumbar (punggung bawah).


Gejala Spondilosis

Gejala spondilosis dapat bervariasi tergantung pada lokasi dan tingkat keparahan kondisi. Berikut adalah beberapa gejala umum yang mungkin terkait dengan spondilosis:

1. Nyeri Punggung

Salah satu gejala utama spondilosis adalah nyeri punggung, yang bisa terjadi sesuai lokasi terjadinya degenerasi. Nyeri ini sering kali bertambah parah saat bergerak.

Bagaimana Cara Mengetahui Perbedaan antara Nyeri Punggung Biasa dan Gejala Spondilosis?

Gejala spondylosis melibatkan nyeri punggung yang persisten, ketidaknyamanan saat bergerak, dan mungkin keterbatasan gerakan. Jika nyeri berlanjut atau merambat, segera konsultasikan dengan dokter untuk evaluasi lebih lanjut.

2. Ketidaknyamanan Leher atau Punggung (Terasa Kaku)

Ketidaknyamanan, kekakuan, dan nyeri leher atau punggung adalah gejala umum yang sering terkait dengan spondilosis.

Spondylosis dapat menyebabkan keterbatasan gerakan di daerah yang terkena. Penderita mungkin mengalami kesulitan dalam melakukan gerakan tertentu atau menemukan posisi yang nyaman.

Pada kasus tertentu, spondilosis dapat menyebabkan nyeri yang merambat ke lengan atau kaki.

3. Ketegangan Otot

Ketegangan otot di sekitar tulang belakang yang dapat menyebabkan sensasi kaku atau terbatas gerak. Pada kondisi ini, degenerasi disk intervertebral, pertumbuhan osteofit, atau perubahan degeneratif lainnya dapat menyebabkan ketidakstabilan tulang belakang.

Sebagai upaya tubuh untuk mengatasi ketidakstabilan ini, otot-otot sekitar area yang terkena dapat mengalami ketegangan yang berlebihan.

4. Nyeri yang Bertambah Parah Saat Duduk atau Berdiri Lama

Aktivitas yang melibatkan posisi duduk atau berdiri lama dapat memperburuk gejala spondilosis. Saat seseorang duduk atau berdiri, berat tubuh mendistribusikan beban pada tulang belakang. Pada orang dengan spondilosis, terutama di daerah lumbal, tekanan tambahan ini dapat menyebabkan peningkatan ketidaknyamanan dan nyeri.

5. Sensasi Kesemutan

Pada beberapa kasus, spondilosis dapat menyebabkan sensasi kebas atau kesemutan di tangan atau kaki.

Perubahan degeneratif pada tulang belakang, seperti prolaps disk atau pembentukan osteofit, dapat memicu kesemutan di daerah yang dilayani oleh saraf yang terkena, seperti leher, bahu, atau lengan. Sensasi kesemutan ini dapat bersifat persisten dan memerlukan evaluasi medis untuk memastikan diagnosis yang tepat dan merencanakan pengelolaan yang sesuai.


Pada kasus yang parah, spondilosis dapat menyebabkan tekanan pada saraf di tulang belakang dan memengaruhi fungsi saraf atau organ terkait. Namun, ini jarang terjadi dan biasanya melibatkan kondisi yang sudah mencapai tingkat keparahan tertentu.


Penyebab Spondilosis

Spondilosis umumnya terkait dengan proses penuaan alami, tetapi ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya kondisi ini:

1. Penuaan

Spondilosis umumnya lebih sering terjadi seiring bertambahnya usia. Proses degeneratif pada tulang belakang biasanya berkembang sepanjang waktu, dan risiko seseorang mengalaminya meningkat secara signifikan ketika mencapai usia yang lebih tua.

Seiring penuaan, kemungkinan pembentukan osteofit (tulang tambahan) di sekitar tepi vertebrae juga meningkat. Osteofit ini dapat menyebabkan peningkatan ukuran tulang belakang dan menjadi salah satu karakteristik spondilosis.

2. Genetika

Adanya riwayat keluarga dengan spondilosis dapat menjadi indikator bahwa faktor genetik dapat berperan dalam kondisi ini. Jika ada anggota keluarga yang menderita spondilosis, risiko keturunan dapat meningkat.

Penelitian genom manusia telah mencoba mengidentifikasi gen-gen yang terlibat dalam perkembangan spondilosis. Beberapa studi menunjukkan bahwa variasi genetik dalam kelompok tertentu dapat meningkatkan rentan seseorang terhadap spondilosis.

3. Cedera atau Trauma

Cedera pada tulang belakang, terutama pada saat muda, dapat meningkatkan risiko seseorang mengembangkan spondilosis di kemudian hari.

Selain itu, cedera pada sistem saraf yang melibatkan tulang belakang, seperti cedera spinal, dapat menyebabkan perubahan struktural dan fungsional yang dapat memicu spondilosis di sepanjang jalur tulang belakang yang terkena.

4. Gaya Hidup dan Aktivitas Fisik

Gaya hidup yang kurang aktif atau pekerjaan yang melibatkan posisi duduk atau berdiri terlalu lama dapat berkontribusi pada perkembangan spondylosis.

Olahraga yang melibatkan gerakan yang berulang atau tekanan berlebihan pada tulang belakang, seperti angkat beban yang tidak benar, dapat meningkatkan risiko spondylosis. Namun, aktivitas fisik teratur secara umum dapat membantu mencegah kondisi ini.

Sebaliknya, aktivitas fisik yang kurang dapat menyebabkan kelemahan otot dan meningkatkan risiko spondylosis.


Cara Penanganan Spondilosis

Meskipun tidak dapat disembuhkan sepenuhnya, ada berbagai cara untuk mengelola gejala dan meningkatkan kualitas hidup. Berikut adalah beberapa pendekatan penanganan spondylosis:

1. Fisioterapi: Program latihan dan terapi fisik yang disesuaikan dengan kebutuhan individu dapat membantu meningkatkan kekuatan otot dan fleksibilitas.

2. Terapi Panas atau Dingin: Penerapan panas atau dingin pada area yang terkena dapat membantu mengurangi nyeri dan peradangan.

3. Perubahan Gaya Hidup: Mengadopsi gaya hidup yang sehat, termasuk diet seimbang dan aktivitas fisik teratur, dapat membantu mengelola spondylosis.

4. Pemakaian Alat Bantu: Pemakaian alat bantu seperti penyangga leher, brace pinggang seperti Brace GBW Physiologic, atau kursi ergonomis dapat memberikan dukungan tambahan dan memberi rasa nyaman.

5. Pembedahan: Dalam kasus yang parah dan tidak merespon pengobatan konservatif, pembedahan dapat menjadi opsi untuk mengurangi tekanan pada saraf yang terkena.


Diagnosis Dini Spondilosis

Mendiagnosa masalah ini dari dini sangat penting untuk memulai penanganan yang efektif. Beberapa metode diagnosa dini melibatkan:

Pemeriksaan Fisik: Dokter dapat melakukan pemeriksaan fisik untuk menilai rentang gerak leher atau punggung, serta mencari tanda-tanda gangguan otot atau ketegangan.

Pemeriksaan Radiologi: Foto rontgen, CT scan, atau MRI dapat memberikan gambaran lebih jelas tentang kondisi tulang belakang dan menunjukkan perubahan degeneratif.

Anamnesis Medis: Dokter akan menanyakan riwayat medis, termasuk riwayat keluarga dan riwayat cedera, untuk membantu dalam diagnosis.

Evaluasi Gejala dan Keluhan Pasien: Mendengarkan keluhan pasien tentang gejala yang dialaminya dapat memberikan pandangan tambahan untuk diagnosis.

Tes Neurologis: Tes neurologis sederhana dapat dilakukan untuk mengevaluasi fungsi saraf dan mendeteksi adanya kelemahan atau gangguan lainnya.


Pertanyaan Seputar Spondylosis

Masih penasaran dengan kondisi tulang belakang ini? Berikut adalah pertanyaan umum yang sering ditanyakan seputar spondylosis:

1. Pertanyaan: Apakah obat penghilang nyeri membantu mengatasi Spondylosis?

Ya, penggunaan obat penghilang nyeri non-preskripsi atau anti-inflamasi dapat membantu mengurangi rasa sakit dan peradangan yang terkait dengan Spondylosis. Namun, penggunaannya sebaiknya sesuai dengan anjuran dokter.

2. Pertanyaan: Apakah Spondylosis hanya terjadi pada orang tua?

Meskipun lebih umum terjadi seiring penuaan, faktor-faktor lain seperti cedera, genetika, dan gaya hidup juga dapat berkontribusi pada perkembangan kondisi ini pada usia yang lebih muda.

3. Pertanyaan: Apakah Spondylosis dapat memicu Radikulopati atau kondisi saraf lainnya?

Ya, pada beberapa kasus, spondylosis dapat menyebabkan radikulopati (irritasi atau kompresi pada akar saraf tulang belakang). Ini dapat menyebabkan gejala seperti nyeri, kelemahan, atau kesemutan yang merambat ke lengan atau kaki.


Langkah Proaktif Pengelolaan

Dengan pemahaman yang baik tentang gejala, penyebab, dan cara penanganan spondylosis, seseorang dapat mengambil langkah-langkah proaktif untuk mengelola kondisi ini.

Penting untuk berkonsultasi dengan profesional kesehatan untuk diagnosis yang akurat dan perencanaan pengobatan yang sesuai. Dengan perawatan yang tepat, seseorang dapat tetap aktif dan menjalani kehidupan sehari-hari tanpa terganggu.