Istilah vertigo tentunya sudah tidak asing lagi di telinga kita dan cukup banyak yang pernah mengalaminya. Lalu apa sebenarnya vertigo itu? Perlukah kita khawatir? Apa yang harus dilakukan bila vertigo terjadi? Mari simak ulasan berikut.

Apa itu vertigo?

Vertigo bukanlah suatu penyakit melainkan suatu kondisi yang dapat menjadi gejala dari penyakit lain yang mendasari. Vertigo dideskripsikan sebagai perasaan atau sensasi seperti diri sendiri atau ruangan sekitar berputar. Bila Anda belum pernah mengalaminya, bayangkan Anda berdiri dan berputar-putar di tempat beberapa kali kemudian berhenti seketika. Vertigo terasa seperti sensasi yang timbul akibat kegiatan tersebut.

Durasi serangan vertigo sangat bervariasi, ada yang hilang dalam hitungan menit dan ada pula yang bertahan hingga berhari-hari. Gejala yang dirasakan pun bermacam-macam dimulai dari pusing berputar ringan hingga mual muntah. Tentunya gejala ini akan sangat mengganggu aktivitas sehari-hari bila parah.

Gejala vertigo

Gejala dari vertigo sendiri dapat dideskripsikan seperti:

  • Sensasi bergerak (termasuk berputar) baik tubuh terhadap ruangan sekitar ataupun ruangan sekitar terhadap tubuh
  • Perasaan seperti tubuh melayang
  • Kesulitan berjalan lurus akibat pusing kepala dan kehilangan keseimbangan

Selain itu, gejala vertigo juga dapat disertai dengan gejala-gejala lainnya. Contohnya:

  • Sakit kepala
  • Mual dan muntah
  • Telinga berdenging (tinnitus)
  • Penurunan hingga kehilangan pendengaran
  • Cara berjalan abnormal disertai hilangnya koordinasi (ataxia)
  • Gerakkan bola mata abnormal (nystagmus)

Faktor risiko vertigo

Meskipun vertigo dapat timbul pada siapa saja, beberapa faktor di bawah ini meningkatkan kemungkinan gejala ini muncul:

  • Berusia di atas 50 tahun. Vertigo jarang ditemui pada anak dan cukup sering ditemui pada dewasa muda berusia 20 tahun dan lebih. Kejadian vertigo sangat tinggi pada usia lansia dan menjadi hal yang perlu diperhatikan mengingat keseimbangan pada lansia rendah
  • Berjenis kelamin wanita
  • Pernah atau sedang mengalami cedera kepala, terlebih bila terdapat luka di kepala bagian dalam
  • Infeksi pada telinga dapat menyebar sehingga mengenai telinga bagian dalam atau saraf vestibularis yang merupakan salah satu organ penting pengatur keseimbangan tubuh
  • Menggunakan obat-obatan rutin tertentu. Beberapa jenis obat anti kejang, obat anti hipertensi, antidepressan, dan aspirin memiliki efek samping yang berpotensi menyebabkan vertigo
  • Memiliki anggota keluarga yang mempunyai riwayat vertigo. Sebuah penelitian baru menemukan 6 varian gen yang memiliki peran dalam perkembangan dan pemeliharaan telinga bagian dalam sehingga berhubungan dengan kejadian vertigo. Selain itu terdapat pula beberapa kondisi dengan gejala vertigo yang diturunkan secara genetik diantaranya familial episodic ataxia, migrainous vertigo, bilateral vestibular hypofunction, familial meniere’s disease.
  • Stress dapat berkontribusi terhadap disfungsi telinga bagian dalam. Sekitar 5% orang dewasa di Amerika mengalami vertigo saat sedang cemas atau dalam tekanan.
  • Sering mengkonsumsi alkohol dapat mengubah komposisi cairan di telinga bagian dalam dan juga dapat menyebabkan dehidrasi
  • Riwayat operasi telinga

Tipe vertigo dan penyebabnya

Terdapat dua tipe vertigo yang terbagi berdasarkan penyebabnya, yaitu:

1. Vertigo perifer

Vertigo perifer merupakan tipe vertigo yang paling sering dijumpai karena dapat ditemukan pada 80% orang dengan gejala vertigo. Kondisi ini timbul akibat adanya gangguan telinga bagian dalam atau pada saraf bernama nervus vestibularis yang berperan untuk menjaga keseimbangan. Gangguan ini membuat telinga dalam mengirimkan sinyal mengenai posisi tubuh yang tidak sesuai dengan sinyal dari mata dan saraf, sehingga otak menjadi kebingungan. Inilah yang mendasari terjadinya vertigo perifer secara umum. Secara spesifik, vertigo perifer dapat disebabkan oleh penyakit-penyakit seperti:

  • BPPV (Benign Paroxysmal Positional Vertigo). Di dalam telinga bagian dalam manusia terdapat organ yang labirin vestibular yang merupakan tiga buah terowongan kecil bernama canalis semicircularis berbentuk setengah lingkaran yang mengarah ke berbagai arah dan berisi cairan serta sensor berbentuk rambut halus. Selain itu terdapat pula organ seperti batu kecil bernama otolith yang membantu memonitor pergerakan dan posisi kepala terhadap gravitasi. Pada kasus ini, terdapat partikel otolith yang terlepas dan masuk ke canalis semicircularis dan mengiritasi sel rambut di dalamnya sehingga mengirimkan pesan palsu mengenai posisi tubuh pada otak.
  • Meniere’s disease. Penyakit ini terjadi akibat akumulasi cairan di telinga bagian dalam sehingga tekanannya meningkat. Hal tersebut memicu terjadinya vertigo disertai telinga berdenging (tinnitus) dan penurunan pendengaran. Vertigo yang muncul bisa menjadi sangat parah dan menimbulkan mual muntah yang berlebih.
  • Labyrinthitis. Penyakit ini merupakan suatu infeksi yang terjadi di telinga bagian dalam tepatnya di organ labirin. Biasanya infeksi disebabkan oleh virus atau bakteri dan diawali oleh adanya flu atau pilek. Gejala lainnya yang dapat timbul pada labyrinthitis berupa demam, nyeri telinga, mual muntah, serta penurunan pendengaran.
  • Vestibular neuronitis. Seperti labirintitis, penyakit ini juga merupakan suatu infeksi namun yang terkena adalah saraf vestibular. Gejala yang ditimbulkan mirip dengan labyrinthitis namun tanpa disertai penurunan pendengaran.
  • Acoustic neuroma merupakan tumor yang timbul di nervus vestibularis dan dapat menyebabkan vertigo juga

2. Vertigo sentral

Berbeda dengan vertigo perifer, pada tipe vertigo sentral gangguan terjadi pada otak. Bagian dari otak yang paling berpengaruh pada kondisi ini adalah otak kecil atau cerebellum. Berikut yang tergolong penyebab vertigo central:

  • Migrain merupakan suatu penyakit yang ditandai dengan sakit kepala berdenyut di satu sisi kepala. Kondisi ini sering dialami oleh usia dewasa muda dan dianggap sebagai salah satu penyebab tersering vertigo.
  • Multiple sclerosis adalah kerusakan sistem saraf pusat, baik otak maupun tulang belakang yang diakibatkan oleh autoimun dimana sistem imun merusak jaringan sehat.
  • Stroke dapat menyebabkan vertigo akibat penyumbatan pembuluh darah atau pendarahan yang terjadi di otak.
  • Tumor otak yang timbul di otak kecil atau sekitarnya dapat mengganggu keseimbangan penderitanya.

Kapan harus ke dokter?

Pada umumnya, vertigo bukanlah kondisi yang mengkhawatirkan dan dapat hilang dengan sendirinya setelah beberapa saat. Namun Anda dapat berkonsultasi dengan dokter bila gejala vertigo yang dirasakan sangat parah dan mengganggu atau tidak hilang dalam beberapa hari, juga bila gejala vertigo terjadi berulang.

Anda dianjurkan untuk segera mencari pertolongan medis bila vertigo disertai dengan salah satu atau lebih gejala-gejala berikut sebab vertigo yang dirasakan kemungkinan merupakan gejala dari penyakit yang lebih serius:

  • Nyeri kepala dengan intensitas sangat berat
  • Demam
  • Pandangan ganda atau buram mendadak
  • Kehilangan pendengaran mendadak
  • Kesulitan bicara mendadak
  • Kelemahan anggota gerak
  • Rasa kebas atau kesemutan
  • Penurunan kesadaran

Diagnosis vertigo

Sebagai tahap awal dalam penegakkan diagnosis, dokter akan melakukan penggalian informasi terkait vertigo yang Anda alami. Anda akan ditanya mengenai gejala yang dirasakan, termasuk durasi gejala dan juga frekuensinya. Dokter juga akan bertanya mengenai faktor risiko yang Anda miliki, riwayat cedera, riwayat kesehatan secara menyeluruh, dan juga obat-obatan yang rutin Anda konsumsi. Berterus terang dengan dokter yang merawat akan sangat membantu dokter untuk menegakkan diagnosis dan mencari tahu penyebab utamanya sehingga terapi yang diberikan menjadi tepat sasaran.

Selanjutnya dokter akan melakukan pemeriksaan fisik yang relevan dengan vertigo yang Anda rasakan. Saat berkonsultasi dengan dokter, sangat baik bila Anda didampingi oleh keluarga sebab beberapa pemeriksaan fisik kemungkinan akan mencetuskan gejala vertigo juga. Contoh pemeriksaan fisik yang biasanya dilakukan diantaranya:

  • Tes Fukuda-Unterberger

Pasien diminta untuk berdiri tegak dengan kaki lurus kemudian berjalan di tempat dengan mengangkat lutut setinggi mungkin selama 30 detik sambil menutup mata. Jika pasien berputar ke satu arah, berarti pasien cenderung mengalami vertigo dengan gangguan pada arah putaran tersebut.

  • Tes Romberg

Pasien memulai tes dengan berdiri tegak kedua kaki dirapatkan dan mata terbuka. Setelah dapat berdiri seimbang, pasien diminta untuk menutup mata selama beberapa detik. Hasil tes positif bila kemudian pasien kehilangan keseimbangan atau terjatuh.

  • Tes impuls kepala

Pada tes ini pasien akan diminta untuk memfokuskan pandangan pada hidung pemeriksa sambil kepalanya digerakkan ke satu sisi dengan cepat. Bila pasien dapat menjaga tatapan tetap fokus pada hidung pemeriksa, maka hasil tes menjadi negatif

  • Tes nistagmus

Pasien akan diinstruksikan untuk melakukan gerakan cepat yang dapat memicu vertigo kemudian akan diperiksa gerakkan involunter bola mata (nistagmus). Alat bernama elektronistagmografi (ENG) dan videonistagmografi (VNG) dapat digunakan untuk merekam nistagmus.

  • Pemeriksaan pendengaran

Pemeriksaan telinga biasanya juga akan dilakukan pada vertigo yang disertai gejala pendengaran seperti tinnitus atau berkurangnya pendengaran.

Selain dari pemeriksaan di atas, dokter dapat merekomendasikan Anda untuk melakukan pemeriksaan penunjang untuk menegakkan diagnosis dan mencari penyebab vertigo. Pemeriksaan tambahan yang sering dianjurkan diantaranya tes darah, foto rontgen, CT scan, atau MRI.

Terapi untuk vertigo

Meskipun pada sebagian kasus vertigo dapat hilang dengan sendirinya, pada sebagian lain terapi sangat dibutuhkan untuk meredakan gejalanya. Selain itu untuk menghilangkan vertigo, sangat perlu dicari tahu dan diberikan terapi sesuai dengan penyebabnya sehingga pengobatan yang diberikan pada satu pasien dengan pasien lainnya dapat berbeda. Pada saat vertigo menyerang, hal-hal berikut sebaiknya Anda lakukan agar tidak menambah parah atau menimbulkan masalah lainnya:

  • Hindari melakukan gerakan secara tiba-tiba
  • Segera duduk atau berbaring
  • Hindari gerakkan mendongakkan kepala dan membungkuk
  • Tidak membaca tulisan apapun
  • Memberikan pencahayaan cukup pada ruangan namun tidak terlalu terang
  • Menggunakan alat bantu berjalan seperti tongkat

Selain dari hal-hal di atas terapi yang biasa dianjurkan oleh dokter untuk penderita vertigo antara lain:

1. Konsumsi obat

Obat-obat vertigo seperti meclizine, diphenhydramine, dimenhydrinate, promethazine, dan lorazepam dapat mengurangi gejala vertigo seperti pusing kepala, mual, dan muntah. Untuk menentukan jenis obat dan mendapatkan dosis yang tepat, sebaiknya Anda berkonsultasi dengan dokter yang merawat.

Antibiotik dan obat golongan steroid dapat diresepkan dokter untuk mengatasi infeksi bila terdapat indikasi. Apabila vertigo disebabkan oleh meniere’s disease, obat golongan diuretik atau yang sering disebut pil air sering diberikan untuk mengurangi penumpukan cairan di telinga bagian dalam.

2. Latihan dengan maneuver

Melakukan beberapa latihan di bawah ini dapat membantu mengurangi vertigo yang disebabkan oleh BPPV dengan mengembalikan otolith ke posisi semula. Pastikan Anda berada di tempat yang aman dan akan sangat baik bila ada yang mendampingi Anda berlatih sebab latihan ini dapat memprovokasi vertigo untuk beberapa saat. Anda juga dapat meminta dokter atau fisioterapis yang merawat untuk memberikan contoh agar prosedur yang Anda lakukan tidak salah.

Epley Maneuver

  • Gerakan ini juga dikenal sebagai canalith repositioning maneuver dan menjadi latihan yang dipercaya efektif mengatasi BPPV. Contoh prosedur bila gangguan terjadi di telinga sisi kanan:
  • Mulai dengan duduk di satu sisi ranjang kemudian kepala menengok 45 derajat ke arah kanan. Posisikan sebuah bantal empuk yang akan berada tepat di bawah bahu dan punggung Anda ketika tiduran sehingga kepala sedikit menggantung.
  • Berbaring dengan cepat tanpa mengubah posisi kepala dan tunggu selama 30 detik
  • Selanjutnya tengokkan kepala ke arah sebaliknya sebanyak 90 derajat dari posisi awal tanpa mengangkat kepala ataupun tubuh. Tahan posisi selama 30 detik
  • Ubah posisi kepala dan tubuh sehingga menghadap ke kiri sehingga wajah menghadap ke ranjang. Tahan selama 30 detik kemudian angkat tubuh perlahan hingga posisi menjadi duduk di samping ranjang
  • Anda dapat mengulangi prosedur di atas hingga 3 kali sebelum tidur hingga pusing hilang selama 24 jam. Lakukan instruksi dengan arah terbalik bila sisi telinga kiri yang terkena

Semont Maneuver

  • Contoh prosedur gerakan bila gangguan terjadi di sisi kanan
  • Mulai dengan posisi duduk di bagian tengah ujung ranjang dengan kaki menggantung ke arah lantai
  • Arahkan kepala menengok ke kiri kemudian tiduran miring ke arah kanan dengan cepat sehingga kepala mengarah ke langit-langit. Tahan selama 1 menit
  • Kemudian bangun dengan cepat dan tiduran menyamping ke arah kiri tanpa mengubah posisi kepala sehingga kepala menghadap lantai. Tahan kembali selama 1 menit
  • Kembali duduk secara perlahan dan hadapkan kepala ke depan. Lakukan instruksi dengan arah terbalik bila sisi telinga kiri yang terkena.

Brandt Daroff Exercise

  • Mulai dengan posisi duduk di bagian tengah ujung ranjang dengan kaki menggantung ke arah lantai
  • Arahkan kepala menengok ke arah kiri semampu Anda kemudian berbaring menyamping dengan cepat ke arah kanan. Tahan posisi selama 30 detik
  • Duduk dan kembalikan posisi kepala menghadap depan.
  • Lakukan prosedur yang sama ke arah sebaliknya
  • Ulangi hingga sebanyak 5 kali dalam 1 set dan Anda dapat melakukannya sebanyak 3 set dalam sehari. Disarankan untuk melakukannya 2 kali seminggu

3. Terapi rehabilitasi vestibular (VRT)

Sistem vestibular berperan untuk menjaga keseimbangan, koordinasi, serta kontrol gerakan tubuh. Rehabilitasi vestibular diperlukan oleh pasien dengan keluhan pusing dan kesulitan menjaga keseimbangan. Fisioterapi yang diberikan akan membantu menguatkan sistem vestibular. Selain itu metode rehabilitasi ini juga dapat memperkuat sistem indera lainnya agar dapat mengkompensasi ketika serangan vertigo terjadi.

4. Perubahan pola diet

Perubahan pada diet sehari-hari Anda dapat membantu mengurangi gejala dan frekuensi terjadinya vertigo, terutama pada vertigo akibat meniere’s disease dengan mengurangi konsumsi garam serta menghindari kafein, cokelat, alkohol dan rokok.

5. Operasi

Tindakan operasi biasanya dilakukan pada vertigo yang disebabkan oleh kondisi yang serius seperti tumor atau cedera kepala. Pada kasus yang cukup jarang operasi dilakukan pada vertigo akibat BPPV yang tidak hilang dengan pengobatan lainnya.

6. Tidur cukup

Bila Anda mengalami gejala vertigo untuk pertama kali, kemungkinan kekurangan tidur menjadi penyebabnya. Dengan tidur yang cukup dan berkualitas, vertigo akan menghilang dengan sendirinya pada banyak kasus.

7. Hidrasi cukup

Beberapa orang mengalami vertigo dalam keadaan dehidrasi. Perbanyak minum air putih dan menghindari berada di lingkungan yang panas dapat menjadi solusinya.

8. Konsumsi vitamin D

Kekurangan vitamin D dipercaya dapat memperparah gejala vertigo yang disebabkan oleh BPPV. Satu gelas susu atau jus jeruk terfortifikasi, konsumsi tuna kaleng, dan kuning telur dapat meningkatkan kadar vitamin D dalam tubuh.

9. Konsumsi obat-obatan herbal

Anda juga dapat meringankan serangan vertigo dengan bahan-bahan yang biasa tersedia di dapur contohnya jahe, ginko biloba, lada merah, ketumbar, dan daun selasih.

10. Akupuntur

Akupuntur dan akupresur juga dapat membantu meredakan gejala vertigo yang Anda derita

Akupuntur Hara

Download E-book - Mengenal Skoliosis dan Terapinya

WhatsApp chat
Malcare WordPress Security