Oleh: dr. Atalya Vetta Widarto

skoliosis vs Renang

Menderita skoliosis tidak menjadikan seseorang terbatas untuk melakukan olahraga. Justru dengan rutin berolahraga akan membawa manfaat besar untuk penderita skoliosis.

Berenang adalah jenis olahraga yang paling sering dianjurkan dan direkomendasikan oleh dokter untuk penderita skoliosis. Mengapa demikian?

Berenang merupakan olahraga low-impact yang sangat aman untuk penderita skoliosis.

Tulang belakang tidak menanggung beban tubuh saat di dalam air. Air menciptakan daya apung sehingga saat melakukan gerakan-gerakan di dalam air, tidak berisiko membebani tulang belakang. Kelengkungan (kurva) ke samping dan rotasi tulang belakang membuatnya tidak stabil sehingga menjadi berbahaya jika diberikan load (beban).

Gerakan-gerakan renang umumnya melibatkan hampir semua kelompok otot pada tubuh.

Baik otot punggung, perut, tangan dan kaki. Hal ini sangat baik untuk penderita skoliosis. Otot-otot badan (trunk) yang kuat otomatis akan lebih baik dalam mempertahankan dan menopang tulang belakang yang melengkung, menjaga posisi tulang belakang menjadi lebih stabil, sehingga mengurangi kemungkinan bertambah besarnya derajat kelengkungan kurva. Gerakan free-style (gaya bebas) dan gerakan backstrokes (gaya punggung) sangat baik dilakukan oleh penderita skoliosis karena melatih utamanya otot-otot punggung yang menopang tulang belakang.

Berenang melibatkan otot-otot tubuh secara simetris.

Hal ini juga menjadi alasan mengapa berenang sangat aman untuk penderita skoliosis. Olahraga yang hanya melatih satu sisi otot tubuh, seperti contohnya tennis, golf, panahan, akan menyebabkan loading (beban) pada tulang belakang menjadi tidak seimbang. Otot akan mengalami penguatan hanya di satu sisi saja. Jika jenis olahraga seperti ini dilakukan rutin terus-menerus, maka dapat berpotensi memperparah derajat kelengkungan kurva skoliosis.

Rutin berenang juga akan meningkatkan kapasitas paru dalam bernapas.

Hal ini sangat baik bagi penderita skoliosis terutama yang memiliki derajat kelengkungan kurva cukup besar. Derajat kelengkungan kurva yang besar (Cobb’s angle >60o) pada umumnya menyebabkan berkurangnya kapasitas paru dalam bernafas, yang berdampak pada keterbatasan pasien untuk melakukan aktivitas yang cukup berat.

Oleh sebab itu, dokter sangat menganjurkan penderita skoliosis untuk berenang. Lalu, apakah dengan rutin berenang, skoliosis dapat sembuh?

Tidak, berenang bukanlah terapi untuk menyembuhkan skoliosis.

Perlu diingat bahwa skoliosis struktural merupakan kelainan deformitas tulang belakang tiga dimensi yang kompleks. Tulang belakang tidak hanya bengkok atau melengkung ke samping saja, tetapi juga berotasi atau berputar.

Rotasi tulang belakang ini dapat dilihat dengan melakukan pemeriksaan Adam test, yaitu pasien diminta untuk berdiri dan membungkuk ke depan kemudian dilihat dari belakang apakah ada punuk (hump) dan lengkungan sepanjang tulang belakang.

adam test

Skoliosis murni bersifat ireversibel atau permanen. Pengurangan derajat kelengkungan kurva (Cobb’s angle) dapat diupayakan dengan bracing dan latihan fisik spesifik untuk skoliosis (Scoliosis Specific Exercise), seperti latihan Schroth (Schroth Exercise), misalnya. Pada kasus-kasus yang berat dengan alasan medis tertentu, juga mungkin perlu dilakukan tindakan operasi.

Skoliosis struktural murni tidak dapat dikoreksi atau diperbaiki hanya dengan melakukan latihan fisik biasa atau olahraga seperti berenang contohnya. Skoliosis tidak dapat sembuh hanya dengan rutin berenang.

Download E-book - Mengenal Skoliosis dan Terapinya

WhatsApp us
Malcare WordPress Security