0 Items

Skoliosis adalah istilah yang kita gunakan untuk mengacu pada kelengkungan lateral (ke samping) tulang belakang yang tidak bisa lagi diperbaiki sepenuhnya (Gambar diatas). Gerakan tulang punggung menjadi berkurang pada bagian yang terkena skoliosis, yang biasanya menghalangi tulang belakang dari menjadi lurus secara aktif. Kelengkungan lateral (ke samping) seperti itu dibarengi dengan terpelintirnya tulang-tulang tubuh, yang menghasilkan punuk tulang rusuk atau tonjolan pinggang.

Skoliosis tanpa jenis keliukan semacam ini bukanlah skoliosis dalam arti yang sesungguhnya.

Gambar Atas Kiri: Seorang pasien perempuan berusia 14 tahun selama masa pertumbuhan pubertas dengan penyimpangan bagian kiri di area dada. Terlihat bahkan oleh orang awam adalah kesenjangan dari pinggang juga formasi punuk tulang rusuk di sebelah kanan. Bahu kanan lebih memanjang ke depan, dengan bahu kiri terangkat dan memanjang ke belakang. Karena kelainan ini hanya dapat diminimalisir dengan diluruskan, itu sesuai dengan definisi skoliosis yang digambarkan sebagai kelengkungan lateral (ke samping) tulang belakang yang kaku sebagian. Pasien di gambar itu memiliki kelengkungan di area dada sebanyak 43o diukur menurut Cobb. Kanan: Posisi menyamping pada sebuah model skoliosis pada pola kelengkungan yang sama yang menunjukkan kelainan 3D.

Skoliosis dapat memiliki banyak penyebab yang berbeda. Ada skoliosis karena penyakit saraf dan otot, gangguan metabolik, juga skoliosis bawaan dengan tulang belakang yang rusak dan pertumbuhan tulang rusuk.

Kebanyakan contoh dari skoliosis membutuhkan pengobatan adalah karena penyebabnya tidak jelas. Meskipun adanya fakta bahwa banyak ilmuwan telah berusaha menemukan alasan di balik kasus-kasus skoliosis, yang disebut “idiopatik” ini (Latin.: muncul secara spontan), puluhan tahun penelitian bahkan tidak menghasilkan solusi akhir bagi masalah ini.

Karena mayoritas pasien skoliosis yang membutuhkan pengobatan mengalami skoliosis idiopatik, saya akan membatasi pembahasan buku ini kepada bentuk skoliosis ini.

Skoliosis idiopatik, yang tidak ada hubungannya dengan skoliosis dari bayi yang masih menyusu, muncul terutama selama fase pertumbuhan tulang yang meningkat.

Skoliosis yang muncul kira-kira antara usia satu dan dua disebut skoliosis idiopatik pada bayi. Kami menyebut skoliosis yang awalnya muncul antara usia empat dan lima dengan skoliosis idiopatik anak-anak atau skoliosis permulaan yang muncul lebih awal (early onset scoliosis). Skoliosis yang muncul terlambat – antara usia 10 dan 14 tahun – disebut sebagai skoliosis idiopatik remaja atau skoliosis permulaan yang muncul terlambat (late onset scoliosis).

1. Skoliosis Idiopatik yang tidak diobati

Semakin awal skoliosis idiopatik terjadi, semakin tidak menguntungkan antisipasi pengobatannya. Jika tidak diobati, ‘skoliosis permulaan yang muncul lebih awal’ ini akan sampai melewati kelengkungan 120o, sementara ‘skoliosis idiopatik remaja permulaan yang muncul terlambat’ jarang melampaui batas 90o, dengan demikian itu mengesampingkan gangguan buruk terhadap fungsi sistem jantung dan pembuluh darah.

Ada berbagai bentuk kelengkungan, yang kira-kira dapat dikategorikan sebagai kelengkungan dada (thoracic scoliosis), kelengkungan pinggang (lumbar scoliosis), kelengkungan dada/pinggang (thoracolumbar scoliosis), atau kelengkungan ganda berbentuk S. Usia, menstruasi awal atau pecah suara, tanda-tanda dari kedewasaan tulang yang dapat diidentifikasi oleh dokter dengan x-ray, keparahan dari kelengkungan itu, jenis kelamin, dan bentuk kelengkungan dianggap menjadi enam faktor yang membuat dokter dapat menilai apakah kelengkungan itu dapat diharapkan berkurang. Contohnya, pada para wanita, kelengkungan dada dengan punuk tulang rusuk bagian kanan secara statistik kemungkinan besar dapat menjadi sangat jelas daripada kelengkungan ganda dengan punuk tulang rusuk sebelah kanan. Selain itu, dapat diasumsikan bahwa risiko peningkatan kelengkungan lebih besar pada para pasien yang lebih muda daripada orang yang hampir dewasa. Ini cukup dapat di mengerti jika kita ingat bahwa – dalam fase pertumbuhan tulang belakang yang lebih cepat – tulang-tulang dengan bentuk irisan akan terus bertumbuh menjadi bentuk irisan yang dewasa, karena mereka ditaruh di bawah tekanan dan ketegangan secara tidak simetris. Ketika pertumbuhan selesai, kemerosotan yang cepat seperti itu tidak lagi mungkin terjadi.

2. Skoliosis Idiopatik yang diobati

Danielsson dan teman-temannya telah mengumpulkan hasil-hasil pengobatan skoliosis jangka panjang dengan korset dan operasi.1 Menurut hasil-hasil penelitian ini, baik pasien skoliosis yang dioperasi maupun yang tidak dioperasi harus mengantisipasi mengalami pembatasan gerakan yang besar, keadaan kesehatan yang biasanya lebih buruk, dan agak lebih merasakan sakit daripada orang-orang yang tidak menderita skoliosis. Yang terakhir dari ketiga hal itu berlawanan dengan penelitian sebelumnya, di mana para pasien skoliosis tidak harus mengantisipasi keadaan sakit yang semakin meningkat. Karena para penulis itu belum dapat menemukan perbedaan penting apa pun antara pasien skoliosis yang diobati dengan operasi dan non-operasi dalam hubungannya dengan efek buruk kesehatan, ini memunculkan pertanyaan apakah sebuah operasi membawa kepada perbaikan dalam keadaan kesehatan pasien skoliosis atau tidak.

1 Danielsson AJ, Wiklund I, Pehrsson K, Nachemson AL (2001) Health-related quality of life in patiens with adolescent idiopathic scoliosis: a matched follow-up at least 20 years after treatment with vrace or surgery. Eur Spin J 10:278-288.

Dalam Oswestry Disability Questionnaire, sebuah kuesioner untuk menilai keterbatasan fisik dan sosial, ada perbedaan yang jelas antara para pasien skoliosis yang diteliti dan kelompok orang yang tidak menderita skoliosis. Dua kelompok yang dites ini – para pasien skoliosis yang diobati dengan operasi dan non operasi – memiliki keterbatasan fungsional dibandingkan kelompok tanpa skoliosis.

Para pasien skoliosis yang diobati dengan operasi maupun secara konservatif memiliki efek yang berbeda dalam hal aktivitas sosial mereka. Jika dibandingkan dengan para pasien yang telah dioperasi, mereka relatif kurang dapat berpartisipasi dalam aktivitas olahraga. Kelompok ini juga menunjukkan ketakutan terluka yang meningkat.

Ada tanda-tanda keletihan atau penurunan yang lebih besar yang terlihat di x-ray pada para pasien skoliosis yang diobati daripada pada kelompok yang tidak menderita skoliosis, tapi frekwensinya sama dalam pasien skoliosis yang diobati dengan operasi dan secara konservatif.2

Perbedaan dalam fungsi paru-paru tidak ditemukan pada pasien skoliosis yang diobati dengan operasi dan konservatif yang menderita skoliosis idiopatik remaja.

Dalam kasus skoliosis idiopatik remaja, mereka yang terpengaruh terutama merasa kurang percaya diri dengan penampilan mereka. Karena sudah diketahui bahwa bentuk skoliosis ini tidak memiliki implikasi kesehatan serius apa pun, ini mungkin tidak begitu mengejutkan bagi siapapun. Kami juga tahu bahwa operasi skoliosis tidak memiliki pengaruh yang menguntungkan pada kesehatan penderita dan oleh karena itu dikesampingkan karena alasan kesehatan saja.3 Bahkan perbaikan penampilan setelah operasi tidak selalu stabil.3,4

Karena fakta bahwa sebuah punuk tulang rusuk dapat terulang lebih buruk daripada sebelumnya dalam 12 bulan setelah operasi,3 dan risiko operasi jangka panjang tidak dapat diramalkan,5 pilihan yang berisiko rendah dengan memberikan korset yang cocok untuk memperbaiki penampilan harus dicoba. Lagipula, perbaikan penampilan yang signifikan juga dapat diperoleh dengan strategi korset terbaru.6 Namun, masalah apakah strategi-strategi ini tetap stabil dalam jangka panjang tidak diketahui – sama seperti dengan operasi.

(Selanjutnya dapat anda baca di Buku “Saya menderita Skoliosis” – Buku Panduan untuk Terapis, Pasien dan Anggota Keluarga. Dapatkan di toko buku Gramedia.

Yuk ikut program Giveaway dan dapatkan berbagai hadiah menarik

00
Months
00
Days
00
Hours
00
Minutes
00
Seconds

Yuk ikut program Giveaway dan dapatkan berbagai hadiah menarik

WhatsApp us
X