Oleh: dr. Atalya Vetta Widarto

schroth dan Olahraga

Banyak penderita skoliosis yang takut berolahraga karena kuatir derajat kurvanya bisa bertambah jika melakukan olahraga-olahraga tertentu. Sebagai contoh, salah satu olahraga yang paling sering direkomendasikan untuk penderita skoliosis adalah berenang karena dianggap paling aman. Namun, banyak yang salah mengartikan olahraga renang sebagai terapi untuk mengobati skoliosis.

Olahraga secara umum berbeda dengan latihan fisik yang spesifik untuk skoliosis. Senam atau Latihan Schroth adalah salah satu pendekatan latihan spesifik yang paling banyak dipelajari dan banyak digunakan di dunia sebagai salah satu terapi untuk skoliosis.

Latihan Schroth berfungsi secara aktif memperbaiki postur penderita skoliosis pada berbagai tingkat usia, mulai dari usia anak-anak hingga lansia. Metode Schroth ini aman karena tiap-tiap gerakannya disesuaikan dengan kondisi dan tipe kurva masing-masing individu. Secara umum, latihan Schroth memiliki fungsi antara lain:

  • Mengembalikan keseimbangan otot-otot tubuh dan menciptakan keadaan tulang/ postur yang lurus.
  • Melatih pola pernafasan yang akan memperbaiki puntiran tulang belakang.
  • Melatih agar kita mengerti posisi tubuh yang benar dan dapat membiasakannya sehari-hari.

Penderita skoliosis penting untuk rutin melakukan keduanya: olahraga secara umum dan latihan spesifik untuk skoliosis. Keduanya memiliki tujuan dan manfaat masing-masing, dan tidak dapat menggantikan yang lainnya.

Berbagai manfaat rutin olahraga bagi penderita skoliosis, di antaranya:

1. Meningkatkan kapasitas paru

Penderita skoliosis terutama dengan derajat kurva besar, biasanya mengalami penurunan kapasitas paru dikarenakan perubahan bentuk rongga dada yang diakibatkan rotasi tulang belakang. Bahkan, pada beberapa pasien dapat timbul keluhan sesak terutama jika melakukan aktivitas fisik cukup berat.

2. Meningkatkan massa otot

Massa otot yang cukup dan kuat pada bagian-bagian tubuh seperti perut, punggung, pinggang, dan kedua kaki akan membantu menjaga stabilitas tulang belakang pada penderita skoliosis.

3. Meningkatkan kebugaran tubuh (physical fitness) secara umum

Kapasitas paru yang menurun dan ketidakseimbangan otot-otot di sepanjang tulang belakang yang diakibatkan tulang belakang yang membengkok dan memutar, akan mempengaruhi kebugaran penderita skoliosis dalam melakukan aktivitas fisik sehari-hari. Penderita skoliosis yang rajin berolahraga akan menjadi lebih bugar dan fit.

4. Menjaga berat badan tetap ideal

Penderita skoliosis dianjurkan untuk mencapai berat badan yang ideal. Berat badan yang berlebih akan membebani tulang belakang dan dapat menimbulkan risiko progresi kurva skoliosis. Sebaliknya, berat badan kurang (underweight) biasanya juga memiliki massa otot yang kurang. Massa otot yang cukup dibutuhkan untuk membantu menopang tulang belakang dan menjaga kurva skoliosis tetap stabil. Secara kosmetik, punuk (hump) juga cenderung lebih tampak menonjol pada penderita yang kurus atau underweight.

5. Menjaga kesehatan mental dan berdampak positif secara psikologis

Penderita skoliosis terutama anak-anak yang mulai memasuki masa remaja, cenderung merasa minder dan tidak percaya diri karena punuk di punggung yang menonjol dan bentuk tubuhnya yang tidak simetris. Beberapa penderita skoliosis juga merasa minder karena harus memakai brace sepanjang hari dan merasa terlihat ‘berbeda’ dibandingkan orang lain. Tidak jarang hal ini menimbulkan kecemasan (anxiety), stress, atau bahkan depresi. Olahraga terbukti menurunkan hormon kortisol yang berkaitan erat dengan stress. Selain itu, olahraga akan meningkatkan kepercayaan diri sehingga citra diri penderita skoliosis menjadi lebih baik.

Rekomendasi Olahraga untuk penderita skoliosis

Berikut merupakan beberapa rekomendasi dan panduan dari International SOSORT (Society on Scoliosis Orthopedic and Rehabilitation Treatment) mengenai olahraga pada penderita skoliosis:

  • Olahraga tidak direkomendasikan sebagai terapi untuk skoliosis idiopatik
  • Penderita skoliosis direkomendasikan untuk tetap aktif berolahraga karena membawa manfaat sangat baik untuk bagi aspek psikologis, neuromotor, dan kesehatan secara umum.
  • Selama masa pengobatan atau terapi skoliosis, anak-anak dianjurkan tetap mengikuti pelajaran olahraga di sekolah. Untuk beberapa kasus khusus dengan derajat dan progresi kurva yang berat, Dokter dapat memberikan panduan untuk membatasi gerakan-gerakan tertentu yang berisiko.
  • Kegiatan olahraga tetap dilanjutkan selama masa terapi skoliosis dengan pemakaian brace karena memberikan manfaat psikologis dan meningkatkan kapasitas aerobik.
  • Selama masa terapi dengan pemakaian brace, jenis-jenis olahraga kontak dan dinamis seperti tinju (boxing), American football, sepakbola, taekwondo, karate, sebaiknya diwaspadai.
  • Olahraga yang bersifat kompetitif dan berisiko mempengaruhi tulang belakang sebaiknya dihindari pada pasien skoliosis dengan risiko progresi kurva yang tinggi.

Jadi, untuk kamu penderita skoliosis atau orangtua dengan anak-anak yang memiliki skoliosis, tetap lanjutkan latihan Schroth secara teratur sebagai terapi dan tetap rutin berolahraga setiap hari supaya tetap sehat dan bugar.

Download E-book - Mengenal Skoliosis dan Terapinya

WhatsApp us
Malcare WordPress Security