Apa itu Shoulder impingement syndrome?

Shoulder impingement syndrome adalah suatu kumpulan gejala nyeri bahu yang terjadi karena adanya penekanan atau jepitan pada struktur tendon (ujung otot) atau bursa (bantalan sendi) oleh tulang-tulang yang menyusun sendi bahu.

Sendi bahu tersusun dari 3 jenis tulang yaitu tulang lengan atas (Humerus), tulang belikat (Scapula), dan tulang selangka (Clavicula). Ketiga tulang tersebut dihubungkan dengan sekelompok otot yang disebut sebagai Rotator cuff muscles. Selain itu terdapat bursa yang berfungsi untuk mengurangi gesekan saat sendi bergerak.

Saat lengan bergerak ke atas melampaui kepala, ruang di antara tulang yang memuat otot, tendon, dan bursa ini menjadi lebih sempit sehingga rentan untuk terjadinya jepitan pada struktur-struktur tersebut. Bila terjadi jepitan, tendon dan otot akan meradang juga bengkak, sehingga menambah sesak ruang tersebut dan gesekan pun menjadi lebih sering terjadi. Terlebih pada orang tua dapat muncul juga spur (tonjolan tulang tambahan) yang menyebabkan ruang menjadi lebih sempit. Spur dapat mengiritasi jaringan-jaringan otot, tendon, dan burs dengan ujungnya yang tajam. Kondisi inilah yang kemudian disebut sebagai Shoulder impingement syndrome.

Shoulder impingement syndrome atau rotator cuff tendinitis merupakan salah satu penyebab tersering yang mendasari nyeri pada bahu. Kondisi ini juga sering disebut sebagai swimmer’s shoulder karena cukup sering dijumpai pada perenang yang memang berisiko tinggi karena banyaknya gerakan repetitif di sendi bahu.

Sendi bahu dibentuk oleh beberapa tulang, otot, dan tendon. Sendi bahu merupakan sendi yang paling kompleks dan memiliki rentang pergerakan (range of motion) bebas ke segala arah. Inilah yang menyebabkan sendi bahu juga lebih rentan mengalami cedera dibanding sendi tubuh lainnya.

Faktor Resiko untuk Shoulder Impingement

Beberapa kondisi dapat meningkatkan kemungkinan impingement untuk terjadi, diantaranya:

  • Usia lebih dari 50 tahun yang memungkinkan keausan permukaan sendi
  • Pekerjaan yang banyak melibatkan gerakan mengangkat lengan
  • Olahraga yang melibatkan gerakan rotasi lengan seperti renang, tenis, dan baseball
  • Mempunyai riwayat penyakit arthritis (radang sendi) atau bone spur

Gejala shoulder impingement

Gejala pada shoulder impingement dapat dirasakan tiba-tiba ataupun diawali gejala ringan yang bertambah secara bertahap. Pada umumnya penderita akan merasakan nyeri bahu di bagian depan dengan atau tanpa disertai pembengkakan. Rasa nyeri terutama dirasakan ketika lengan diangkat dan saat menurunkan lengan dari posisi terangkat sehingga penderitanya akan mengalami keterbatasan gerak. Beberapa gerakan lain seperti merogoh saku belakang dan membuka tutup resleting juga dapat memicu rasa nyeri. Beberapa juga melaporkan nyeri yang lebih intens pada malam hari, terlebih saat tidur miring ke arah sisi lengan yang sakit, sehingga penderita juga kesulitan untuk tidur dan istirahat malam hari. Rasa nyeri dapat bertambah intensitasnya dalam beberapa minggu hingga beberapa bulan.

Bila tendon rotator cuff berulang kali mengalami cedera akibat impingement, robekan dapat terjadi ditandai dengan kelemahan untuk mengangkat lengan. Kemudian robekan pada otot bisep dapat terjadi akibat proses impingement yang berkelanjutan.

Diagnosis shoulder impingement

Untuk penegakan diagnosis, dokter akan mewawancara Anda mengenai keluhan yang anda miliki. Sebaiknya Anda menceritakan bila memiliki riwayat cedera dan juga kebiasaan sehari-hari Anda, berikut olahraga yang sering dilakukan agar dokter dapat menggali faktor risiko yang Anda miliki. Selanjutnya, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik. Anda akan diminta untuk melakukan beberapa gerakan dengan bahu kemudian dokter akan mengukur seberapa jauh sendi dapat bergerak dan melihat apakah ada gerakan yang abnormal.

Pemeriksaan penunjang seperti X-ray atau MRI mungkin dapat digunakan. Meskipun tidak dapat melihat kondisi tendon, X-ray dapat menggambarkan adanya spur pada tulang-tulang di bahu yang bisa menjadi penyebab impingement. Berbeda dari X-ray, MRI dapat menunjukkan kondisi jaringan ikat lunak seperti tendon dan bursa sehingga peradangan dan robekan dapat teridentifikasi.

Terapi shoulder impingement

Terdapat beberapa strategi terapi untuk shoulder impingement. Pada umumnya kondisi ini dapat diatasi dengan terapi non-operatif, namun beberapa kasus membutuhkan operasi untuk penanganannya. Pendekatan strategi diambil berdasarkan usia, tingkat aktivitas, kondisi kesehatan secara umum, dan tentunya bergantung pada kerusakan yang terjadi. Berbagai strategi terapi tersebut memiliki tujuan yang sama, yaitu: mengurangi nyeri dan mengembalikan fungsi sendi bahu.

Terapi non-operatif

Terapi ini akan menjadi lini pertama pengobatan pada kasus ini. Meskipun dibutuhkan waktu yang cukup lama, sekitar 6 hingga 8 minggu, banyak pasien yang melaporkan berkurangnya keluhan dan adanya peningkatan berangsur fungsi sendi bahu.

Berikut yang termasuk dalam terapi non-operatif shoulder impingement:

  • Kurangi aktivitas sendi bahu terutama yang dapat mencetuskan nyeri seperti mengangkat lengan, berenang, atau bermain tenis selama beberapa minggu
  • Usahakan untuk tetap menggerakan tangan dan bahu dengan aktivitas harian yang sewajarnya. Jangan dibiarkan sendi bahu tidak bergerak sama sekali karena dapat mengakibatkan kaku gerak. Hindari penggunaan arm sling (penyangga lengan)
  • Kompres dingin menggunakan es yang terbungkus handuk atau kain selama 20 menit sebanyak 1 hingga 2 kali dalam sehari
  • Obat antinyeri seperti ibuprofen atau naproxen dapat diminum bila nyeri.

Meskipun obat ini dapat dibeli bebas, baiknya Anda tetap berkonsultasi dahulu dan mendapat pengawasan dari dokter karena penggunaan dalam jangka waktu lama dapat menimbulkan efek samping seperti perdarahan dan tukak saluran cerna.

  • Injeksi cortisone dapat dilakukan hanya bila nyeri tidak dapat diatasi dengan obat antinyeri oral. Penggunaannya secara rutin tidak disarankan karena dapat menimbulkan kelemahan pada otot dan tendon
  • Latihan fisik. Latihan fisik ringan untuk sendi bahu dapat Anda lakukan untuk mencegah kaku gerak dan membantu Anda mempersiapkan sendi bahu dan ototnya untuk aktivitasi sehari-hari. Berikut contoh gerakannya
  • Pendulum

Anda dapat berdiri dengan kedua kaki di samping sebuah meja kemudian topang sebagian beban tubuh dengan satu telapak tangan Anda yang ditaruh di atas meja sehingga lengan di sisi lain bebas bergerak. Ayunkan lengan anda yang bebas ke depan-belakang, kanan-kiri, dan berputar layaknya sebuah pendulum. Lakukan selama kurang lebih 10 menit untuk masing-masing sisi lengan sebanyak 2 kali sehari.

  • Crossover arm stretch

Angkat satu sisi lengan ke arah sisi yang berseberangan kemudian tahan siku Anda menggunakan tangan sisi lainnya . Tarik lengan yang diangkat sejauh mungkin dan tahan posisi ini selama 30 detik kemudian istirahatkan kembali selama 30 detik. Anda dapat melakukan latihan ini sebanyak 4 kali untuk masing-masing sisi lengan.

Terapi operatif

Terapi operasi dapat dilakukan bila dengan metode non-operatif nyeri tidak dapat teratasi atau bahkan menjadi lebih parah. Tujuan dari operasi adalah memberikan ruang yang lebih untuk rotator cuff agar tidak tejadi gesekan. Biasanya teknik pembedahan dengan arthroscopy menjadi pilihan utama untuk operasi, yaitu alat operasi dimasukkan dan akan dipandu oleh kamera kecil melalui sayatan kecil pada bahu Anda.

Setelah operasi, Anda akan membutuhkan rehabilitasi bertahap. Anda juga akan menggunakan arm sling untuk meminimalisir pergerakan sementara waktu. Dibutuhkan waktu kurang lebih 2 hingga 4 bulan untuk proses pemulihan, namun beberapa pasien membutuhkan waktu 1 tahun untuk fungsi sendi bahu kembali seperti semula.

Download E-book - Mengenal Skoliosis dan Terapinya

WhatsApp us
Malcare WordPress Security