Apakah Rheumatoid Arthritis Itu?

Seperti namanya, Arthritis merupakan istilah yang digunakan untuk penyakit radang sendi. Rheumatoid Arthritis sendiri merupakan salah satu penyakit kronis berupa radang sendi yang disebabkan oleh proses autoimun, yaitu suatu kondisi dimana sistem kekebalan tubuh seseorang menyerang tubuhnya sendiri. Pada rheumatoid arthritis, atau yang lebih umum disebut sebagai rematik, sistem imun menyerang jaringan sendi dan sekitarnya sehingga dapat menyebabkan keluhan nyeri dan kaku sendi yang berujung pada menurunnya kualitas hidup penderitanya. Saat ini, 1-2% dari seluruh populasi di dunia merupakan penderita rheumatoid arthritis. Jumlahnya meningkat pada usia di atas 55 tahun yaitu mencapai 5%.

Penyebab dan Faktor Resiko Rheumatoid Arthritis

Sistem imun di tubuh kita seharusnya berfungsi melawan benda asing yang masuk ke tubuh seperti virus, bakteri, atau substansi lain yang berpotensi menimbulkan infeksi atau penyakit. Pada rheumatoid arthritis, sistem imun membentuk antibodi yang menyerang jaringan sendi, dimulai dari lapisan tipis pembungkus sendi (synovium) yang kemudian menimbulkan peradangan dan menjalar ke jaringan di sekitarnya. Bila peradangan dibiarkan terlalu lama, dapat terjadi kerusakan pada struktur sendi yang bersifat permanen.

Beberapa faktor risiko terjadinya penyakit rheumatoid arthritis, di antaranya:

  • Jenis kelamin. Wanita memiliki resiko lebih tinggi sebanyak 2-3 kali lipat dibandingkan pria. Selain itu, wanita yang belum pernah melahirkan lebih beresiko untuk menderita rheumatoid arthritis dibandingkan dengan yang sudah pernah melahirkan. Sebaliknya, menyusui menurunkan resiko penyakit ini.
  • Usia. Rheumatoid arthritis dapat terjadi pada usia berapa saja namun resikonya meningkat seiring dengan pertambahan usia, puncaknya pada usia 60 tahun.
  • Genetik atau riwayat keluarga. Jika Anda memiliki anggota keluarga yang menderita rheumatoid arthritis, Anda memiliki resiko yang lebih tinggi untuk terkena penyakit serupa. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh gen HLA (Human Leukocyte Antigen) yang diturunkan. Meskipun begitu, bukan berarti Anda pasti akan menderita rheumatoid arthritis bila keluarga Anda memilikinya. Paparan dari faktor lainnya tetap berpengaruh terhadap terjadinya penyakit ini.
  • Obesitas
  • Merokok. Beberapa studi menunjukkan bahwa kebiasaan merokok meningkatkan resiko rheumatoid arthritis dan juga dapat membuat kondisinya menjadi lebih parah. Tidak hanya itu, paparan asap rokok sejak dini, misalnya menjadi perokok pasif, juga meningkatkan resiko penyakit ini.

Gejala Rheumatoid Arthritis

Seperti penyakit arthritis lainnya, umumnya gejala rheumatoid arthritis dirasakan pada sendi, namun beberapa karakteristik berikut ini dapat membedakannya dari tipe arthritis lain, diantaranya:

  • Nyeri sendi. Pada tahap awal penyakit, penderita rheumatoid arthritis mungkin hanya merasakan nyeri pada sendi. Setelah beberapa lama, bengkak, kemerahan dan kaku pada sendi dapat timbul dan bertahan hingga kurang lebih 6 minggu
  • Kaku pada sendi yang dirasakan pagi hari selama kurang lebih 30 menit
  • Gejala dirasakan pada lebih dari satu sendi dan biasanya menyerang pada sendi yang simetris baik di sisi kanan maupun kiri
  • Gejala timbul pada sendi-sendi kecil terlebih dahulu seperti pada jari tangan dan kaki. Seiring perkembangan penyakit, gejala dapat menyebar ke sendi besar lainnya seperti pergelangan tangan dan kaki, lutut, siku, bahu, dan pinggul.
  • Kerusakan struktur (bentuk) sendi apabila dibiarkan terlalu lama dan tidak mendapat terapi yang sesuai.

Selain gejala pada sendi, gejala-gejala lainnya yang dapat timbul adalah:

  • Merasa kelelahan
  • Suhu tubuh meningkat
  • Nafsu makan menurun
  • Penurunan berat badan

Gejala-gejala di atas tidak selalu dirasakan setiap saat oleh penderitanya. Terdapat periode waktu dimana gejala menjadi lebih berat dan lebih sering dirasakan. Di saat lainnya, gejala-gejala tersebut dapat saja hilang.

Diagnosis Rheumatoid Arthritis

Apabila Anda mengalami gejala seperti di atas, sebaiknya Anda segera ke dokter untuk berkonsultasi. Gejala pada rheumatoid arthritis memang sangat mirip dengan penyakit-penyakit sendi lainnya, sehingga cukup sulit untuk menegakkan diagnosis. Dokter akan melakukan wawancara mengenai keluhan yang Anda rasakan saat ini, utarakan karakteristik dari nyeri sendi secara terperinci agar kemungkinan diagnosis lainnya dapat disingkirkan. Dokter juga akan mencari tahu faktor resiko yang Anda miliki. Berikan keterangan dengan jujur pada dokter agar penanganan terbaik dapat diberikan untuk mengobati penyakit Anda.

Pada pemeriksaan fisik, dokter akan melihat dan sedikit menekan sendi anda yang mengalami arthritis. Anda juga akan diminta untuk menggerakkan sendi agar dokter dapat mengukur rentang gerak dari sendi dan kekuatan otot Anda.

Beberapa pemeriksaan penunjang yang biasanya dilakukan oleh dokter untuk penderita rheumatoid arthritis diantaranya pencitraan sendi dan juga tes darah. Pencitraan seperti X-ray, MRI, atau ultrasound ditujukan untuk melihat kerusakan yang terjadi pada sendi dan menentukan tingkat keparahan dari penyakit ini. Sementara tes darah yang sering dilakukan diantaranya pemeriksaan faktor reumatoid dan antibodi anti-cyclic citrullinated peptide (Anti-CCP), pemeriksaan laju endap darah (ESR) atau C-reactive protein untuk melihat adanya peradangan dalam tubuh, dan tes darah lengkap.

Komplikasi Rheumatoid Arthritis

Rheumatoid arthritis juga dapat menimbulkan beberapa komplikasi lain, seperti:

  • Osteoporosis. Rematik berikut dengan pengobatannya meningkatkan resiko terjadinya osteoporosis (massa tulang berkurang sehingga menjadi lebih rapuh)
  • Rheumatoid nodules merupakan benjolan yang muncul di bawah kulit dan biasanya timbul di daerah yang sering menekan permukaan keras seperti siku. Benjolan ini juga dapat berkembang di paru
  • Mata dan mulut kering akibat sindrom Sjogren yaitu penyakit dimana sistem imun menyerang sel sehat dari kelenjar yang memproduksi air mata dan air liur
  • Infeksi. Hal ini disebabkan pengobatan dari rheumatoid arthritis yang bertujuan untuk menekan sistem imun dan mengurangi peradangan sehingga penderita rentan mengalami infeksi
  • Carpal Tunnel Syndrome dapat terjadi apabila rheumatoid arthritis menyerang sendi pergelangan tangan. Peradangan yang terjadi dapat menekan saraf sehingga menimbulkan rasa nyeri, kesemutan, hingga mati rasa di daerah tangan
  • Gangguan jantung. Rematik dapat meningkatkan resiko timbulnya penyumbatan di arteri serta peradangan di lapisan pembungkus jantung
  • Gangguan paru-paru. Orang dengan penyakit rheumatoid arthritis lebih tinggi kemungkinannya untuk mengalami peradangan di paru-paru yang ditandai oleh sesak napas dan nyeri dada
  • Limfoma. Penderita rheumatoid arthritis lebih rentan untuk mengalami limfoma (kanker darah yang terjadi di sistem limfatik).

Terapi Rheumatoid Arthritis

Rheumatoid arthritis merupakan penyakit yang tidak dapat disembuhkan secara total. Hingga saat ini, terapi pengobatan rheumatoid arthritis bertujuan untuk mengurangi intensitas dan frekuensi timbulnya gejala serta mencegah komplikasi yang dapat memperburuk kualitas hidup penderitanya.

Terdapat berbagai macam pendekatan terapi untuk rheumatoid arthritis. Masing-masing kasus dapat memiliki regimen terapi yang berbeda, disesuaikan dengan tingkat keparahan penyakit dan juga kondisi kesehatan umum penderita.

Beberapa pilihan terapi untuk Rheumatoid arthritis di antaranya :

  1. NSAID (Nonsteroidal Anti-Inflammatory Drugs) dapat digunakan untuk mengurangi rasa nyeri dan meredakan peradangan. Ibuprofen dan Naproxen merupakan contoh NSAID yang paling sering digunakan. Pemantauan oleh dokter diperlukan bila Anda mengkonsumsi obat golongan ini dalam jangka waktu yang lama karena dapat menimbulkan efek samping seperti pendarahan saluran cerna, misalnya.
  2. Steroid seperti prednisone dapat diresepkan dokter untuk mengurangi peradangan dengan cepat. Anda sebaiknya mengkonsumsi obat ini di bawah pengawasan Dokter, sebab dapat timbul efek samping bila mengkonsumsi obat ini dalam jangka waktu lama dan penghentiannya harus dilakukan secara bertahap.
  3. DMARDs (Disease Modifying Anti Rheumatic Drugs) seperti methotrexate, sulfasalazine, dan hydroxychloroquin digunakan untuk memperlambat perkembangan penyakit dan melindungi sendi dari kerusakan permanen
  4. Operasi dapat dilakukan hanya pada kasus yang parah
  5. Fisioterapi untuk memaksimalkan rentang gerak sendi

Perubahan gaya hidup contohnya menjaga berat badan ideal, makan makanan bergizi seimbang, rutin melakukan aktivitas fisik, dan berhenti merokok.

Download E-book - Mengenal Skoliosis dan Terapinya

WhatsApp us
Malcare WordPress Security