Pengertian Diabetic Neuropathy

Diabetic neuropathy atau neuropati diabetikum adalah suatu istilah yang digunakan untuk mendefinisikan kerusakan saraf akibat penyakit diabetes. Hal ini merupakan salah satu komplikasi diabetes yang cukup serius dan sering terjadi karena sekitar 50% penderita diabetes mengalaminya. Baik diabetes tipe 1 maupun tipe 2 dapat menimbulkan masalah ini apabila tidak mendapat perawatan yang baik. Biasanya komplikasi ini timbul setelah memiliki penyakit diabetes selama 10 tahun atau lebih.

Penyebab utama diabetic neuropathy masih belum diketahui, namun penelitian menunjukkan kadar gula darah tinggi yang tidak terkontrol dapat merusak saraf dan mengganggu pengiriman sinyal yang merupakan fungsi utama dari saraf. Gula darah yang tinggi juga dapat merusak dinding pembuluh darah yang memberikan suplai oksigen serta nutrisi untuk saraf.

Jenis Jenis Diabetic Neuropathy Dan Gejalanya

Terdapat 4 tipe utama diabetic neuropathy dan seseorang bisa memiliki lebih dari satu tipe. Gejala yang ditimbulkan dapat berbeda-beda sesuai dengan tipe dan juga saraf yang terkena. Gejala awal biasanya sangat ringan sehingga penderitanya tidak menyadari hingga kerusakan lebih lanjut terjadi.

1. Peripheral neuropathy

Tipe ini disebut juga distal symmetric peripheral neuropathy dan merupakan tipe neuropati yang paling sering terjadi. Pada tipe ini, biasanya bagian tubuh yang terkena lebih dulu adalah kaki dan tungkai diikuti tangan dan lengan. Gejala peripheral neuropathy sering memburuk pada malam hari dan dideskripsikan seperti:

  • Mati rasa atau kehilangan sensitivitas akan sensasi nyeri dan perubahan temperatur
  • Sensasi seperti ditusuk jarum atau terbakar
  • Nyeri tajam hingga kram
  • Kelemahan otot
  • Sensitivitas ekstrim terhadap sentuhan (pada beberapa penderita, menyentuh sarung bantal dapat menimbulkan rasa sakit)
  • Masalah kaki serius seperti ulkus, infeksi, atau kerusakan tulang dan sendi
diabetic neuropathy

2. Autonomic neuropathy

Sistem saraf otonom berfungsi untuk mengatur tekanan darah, denyut jantung, fungsi penglihatan, fungsi berkemih, fungsi pencernaan, dan fungsi seksual. Diabetes dapat mempengaruhi saraf-saraf tersebut dan menimbulkan gejala seperti:

  • Kurangnya sensitivitas terhadap kadar gula rendah (hypoglycemia unawareness)
  • Penurunan tekanan darah secara drastis saat berdiri dari posisi duduk atau berbaring dan menyebabkan pusing hingga pingsan (orthostatic hypotension)
  • Gangguan berkemih atau gangguan pencernaan
  • Pengosongan lambung menjadi lambat dan menimbulkan mual, muntah, rasa penuh di perut, dan kehilangan nafsu makan
  • Kesulitan menelan
  • Kesulitan menyesuaikan pandangan dari tempat gelap ke tempat terang atau melihat jauh ke dekat
  • Peningkatan atau penurunan produksi keringat
  • Gangguan fungsi seksual seperti vagina kering atau disfungsi ereksi

3. Proximal neuropathy

Tipe neuropati tipe ini seringnya mengenai saraf pada paha, pinggul, pantat, kaki, dada, bahkan perut. Gejala biasanya dirasakan pada satu sisi tubuh namun dapat menyebar ke sisi lainnya, dengan karakteristik:

  • Nyeri yang berat pada pantat, panggul, atau paha
  • Kelemahan dan penyusutan otot paha
  • Nyeri pada dinding dada atau perut

4. Mononeuropathy (neuropati fokal)

Mononeuropathy mengacu pada kerusakan satu buah saraf yang spesifik. Saraf yang biasanya terkena adalah saraf wajah, badan, lengan, atau kaki. Mononeuropati menimbulkan gejala seperti:

  • Kesulitan untuk memfokuskan pandangan atau pandangan ganda
  • Kelumpuhan pada satu sisi wajah
  • Mati rasa atau sensasi seperti ditusuk pada tangan dan jari
  • Kelemahan pada tangan sehingga sering menjatuhkan barang
  • Nyeri pada kaki atau paha
  • Kelemahan kaki menghasilkan cara berjalan dengan kaki dihentakkan

Faktor Risiko Diabetic Neuropathy

Siapa pun yang memiliki penyakit diabetes berpotensi untuk mengalami neuropati. Namun kejadiannya meningkat pada pasien yang memiliki faktor berikut ini:

  • Kurangnya kontrol gula darah. Kadar gula darah yang tinggi dan tidak terkontrol meningkatkan risiko kejadian semua jenis komplikasi diabetes, termasuk neuropati
  • Riwayat diabetes. Semakin lama seseorang menderita diabetes, semakin tinggi risiko neuropati terjadi
  • Penyakit ginjal. Diabetes dapat berdampak pada kerusakan ginjal. Dengan rusaknya ginjal, racun yang tidak terbuang tetap bersirkulasi di darah dan dapat membuat kerusakan saraf lebih lanjut.
  • Berat badan berlebih. Indeks massa tubuh 25 atau lebih meningkatkan risiko diabetic neuropathy
  • Merokok. Merokok dapat membuat pembuluh arteri menjadi lebih sempit dan kurang elastis sehingga mengurangi asupan darah pada kaki. Hal ini menyebabkan saraf rusak dan membuat luka pada kaki lebih sukar untuk sembuh

Kapan Harus Ke Dokter?

Segera berkonsultasi dengan dokter apabila Anda mengalami:

  • Luka atau nyeri pada kaki yang mengalami infeksi atau tidak kunjung sembuh
  • Sensasi seperti terbakar, seperti ditusuk jarum, atau terdapat kelemahan anggota gerak dan mengganggu aktivitas sehari-hari dan tidur
  • Gangguan pencernaan, berkemih, atau seksual
  • Merasa pusing atau pingsan

Diagnosis Diabetic Neuropathy

Dokter yang merawat Anda dapat mendiagnosa dan mengevaluasi diabetic neuropathy dengan  melakukan wawancara mengenai riwayat diabetes dan gejala yang Anda rasakan. Dokter akan memeriksa kekuatan otot secara menyeluruh, refleks tendon, dan sensitivitas terhadap sentuhan, nyeri, temperatur, dan getaran. Selain itu, beberapa pemeriksaan lain dapat dilakukan untuk mendukung penegakkan diagnosis seperti:

  • Filament testing. Serat nilon dioleskan pada kulit untuk melihat sensitivitas kulit terhadap sentuhan.
  • Nerve conduction testing. Pemeriksaan ini mengevaluasi seberapa cepat saraf tangan dan kaki dapat menghantarkan sinyal listrik.
  • Electromyography. Seperti nerve conduction testing, hanya saja pemeriksaan ini bertujuan untuk melihat kecepatan penghantaran listrik dari saraf ke otot.
  • Autonomic testing. Pemeriksaan ini bertujuan untuk melihat perubahan tekanan darah pada posisi tubuh yang berbeda-beda

Pengobatan Diabetic Neuropathy

Terapi pada diabetic neuropathy didasari pada 3 tujuan yaitu:

1. Memperlambat perkembangan penyakit

Dengan menjaga kadar gula darah dalam rentang normal secara konsisten dapat mencegah dan memperlambat progresivitas diabetic neuropathy. Oleh karena itu, konsumsi obat anti diabetes sesuai dengan yang dianjurkan oleh dokter Anda. Gula darah puasa yang baik bagi penderita diabetes adalah dalam rentang 80 hingga 130 mg/dl dan gula darah 2 jam setelah makan dijaga agar tetap di bawah 180 mg/dl. Hal lainnya yang dapat mencegah diabetic neuropathy menjadi lebih parah adalah mengontrol tekanan darah, menjaga berat badan ideal, dan rutin berolahraga.

2. Meredakan nyeri

Untuk mengatasi nyeri, dokter akan meresepkan obat-obatan yang bekerja pada saraf seperti gabapentin yang merupakan salah satu golongan anti kejang atau antidepresan seperti amitriptyline. Pastikan Anda mendapat obat-obatan ini dari dokter untuk mencegah efek samping yang tidak diinginkan.

3. Manajemen komplikasi dan mengembalikan fungsi sistem organ

Untuk mengatasi komplikasi yang terjadi, Anda mungkin akan dirujuk pada dokter spesialis yang sesuai dengan kondisi Anda. Beberapa hal di bawah ini juga dapat membantu Anda mengurangi gejala dari komplikasi yang terjadi

  • Gangguan berkemih. Dokter yang merawat Anda dapat memberikan atau menghentikan penggunaan beberapa obat yang dapat memperparah komplikasi ini. Pemasangan kateter dan melakukan penjadwalan rutin untuk berkemih dapat dilakukan untuk mengatasi masalah berkemih.
  • Gangguan pencernaan dapat diatasi dengan makan dengan porsi kecil namun sering. Perubahan pola makan dan beberapa obat-obatan dapat membantu mengurangi mual, diare, atau konstipasi.
  • Penurunan tekanan darah drastis bisa dicegah dengan mengubah gaya hidup seperti mengurangi konsumsi alkohol dan memperbanyak minum air putih, juga berdiri secara perlahan dan tidak tergesa-gesa.

Komplikasi Diabetic Neuropathy

Diabetic neuropathy dapat menyebabkan beberapa komplikasi yang serius seperti:

  • Hypoglycemia unawareness. Kadar gula darah kurang dari 70 mg/dl biasanya menyebabkan tremor, berkeringat, dan denyut nadi cepat. Namun penderita diabetic neuropathy tidak dapat merasakan tanda-tanda bahaya ini
  • Kehilangan anggota gerak. Kerusakan pada saraf dapat menyebabkan kehilangan kemampuan sensoris kaki sehingga penderitanya tidak merasakan adanya luka dan berujung pada ulkus. Pada kasus yang lebih berat, infeksi dapat terjadi dan menyebar yang mengakibatkan kematian jaringan. Pada tahap ini amputasi akan dibutuhkan untuk mencegah kerusakan lebih lanjut.
  • Infeksi saluran kemih dan inkontinensia urin. Bila saraf yang mengatur proses berkemih terkena neuropati, kandung kemih akan mengalami kesulitan untuk mengosongkan isinya sehingga bakteri dapat berkembang biak di dalamnya dan menyebabkan infeksi. Kerusakan saraf juga dapat mengganggu kemampuan untuk merasakan sensasi ingin berkemih sehingga volume urin dalam kandung kemih menjadi berlebih dan mengalami kebocoran (inkontinensia)
  • Penurunan drastis tekanan darah. Kerusakan pada saraf yang mengatur tekanan darah bisa berdampak pada penurunan tekanan darah secara drastis saat berdiri dari duduk atau berbaring dan dapat menyebabkan rasa pusing hingga pingsan.

Pencegahan Diabetic Neuropathy

Anda dapat mencegah atau memperlambat terjadinya diabetic neuropathy dengan cara berikut ini:

1. Manajemen kadar gula darah

American Diabetes Association merekomendasikan penderita diabetes untuk memeriksakan kadar glycated hemoglobin (A1C) sebanyak 2 kali dalam 1 tahun. Tes ini mengindikasikan kadar gula darah rata-rata dalam 2 hingga 3 bulan terakhir. Kadar A1C yang direkomendasikan adalah di bawah 7.0%. Bila hasilnya lebih dari normal, penambahan atau modifikasi terapi diabetes dan gaya hidup perlu dilakukan.

2. Perawatan kaki

Masalah pada kaki termasuk luka yang sulit sembuh, ulkus, ataupun pasca amputasi merupakan komplikasi yang sering ditemui pada diabetic neuropathy. Namun Anda dapat mencegah masalah ini menjadi lebih parah dengan rutin memeriksakannya dengan dokter Anda minimal 1 tahun sekali. Anda juga dapat melakukan perawatan kaki sendiri di rumah dengan cara:

  • Memeriksa kaki secara mandiri setiap hari. Periksa apakah terdapat luka, lebam, bengkak, sayatan, atau kulit yang pecah-pecah pada kaki. Gunakan kaca atau meminta bantuan keluarga untuk memeriksakan bagian kaki yang sulit Anda lihat sendiri
  • Jaga kebersihan kaki dan usahakan tetap kering. Cuci kaki Anda setiap hari dengan air hangat kuku dan sabun yang lembut. Keringkan seluruh permukaan kaki dengan handuk yang lembut dan jangan lupakan bagian sela-sela jari kaki.
  • Jaga kelembaban kaki dengan menggunakan lotion untuk mencegah kulit kaki Anda pecah-pecah. Lotion sebaiknya tidak digunakan di sela-sela jari kaki karena dapat memicu pertumbuhan jamur.
  • Potong kuku jari kaki Anda dengan hati-hati dan pastikan tidak ada ujung kuku yang tajam agar tidak melukai kaki
  • Gunakan kaos kaki yang bersih dan kering. Kaos kaki berbahan katun dapat menyerap keringat dengan baik. Usahakan tidak terdapat karet atau bagian kaos kaki yang mengikat kaki terlalu ketat
  • Menggunakan sepatu dengan ukuran yang pas dan memiliki bantalan kaki yang cukup meredam tekanan pada kaki

3. Menjaga tekanan darah tidak lebih dari 140/90 mmHg

4. Menghindari paparan asap rokok

5. Mengkonsumsi makanan tinggi serat dan rendah lemak

6. Menjaga berat badan ideal

Download E-book - Mengenal Skoliosis dan Terapinya

WhatsApp us
Malcare WordPress Security