screening skoliosis

Screening skoliosis meliputi pemeriksaan screening (deteksi dini) dan pemeriksaan pasca diagnostic (setelah diketahui mengidap skoliosis). Pemeriksaan screening dilakukan sebelum pasien mengetahui penyakit skoliosis yang dideritanya dan sebaiknya dilakukan saat usia pasien belum mencapai masa pematangan tulang atau dibawah usia 16 tahun. Pemeriksaan pasca diagnostic adalah pemeriksaan keadaan skoliosis pasien dengan tujuan untuk memonitor perkembangan kondisi pasien skoliosis secara bertahap atau dalam jangka waktu tertentu untuk menentukan apakah pasien semakin membaik atau sebaliknya.

Screening skoliosis merupakan proses pemeriksaan sistematis untuk mendeteksi adanya skoliosis pada individu tanpa gejala yang jelas. Metode screening melibatkan serangkaian pemeriksaan fisik oleh profesional kesehatan, termasuk pengukuran kelengkungan tulang belakang dan evaluasi postur tubuh. Sasaran utama screening skoliosis adalah populasi anak dan remaja yang berisiko tinggi mengembangkan kondisi ini. Hal ini dilakukan untuk memberikan deteksi dini dan memungkinkan intervensi segera untuk mencegah perkembangan lebih lanjut.

Deteksi dini melalui screening skoliosis memiliki manfaat besar, termasuk pencegahan perkembangan lebih lanjut, pengurangan risiko komplikasi, dan memastikan pertumbuhan dan perkembangan anak yang optimal. Dengan menanggapi secara cepat, profesional kesehatan dapat memberikan perawatan yang sesuai, seperti penggunaan korset tulang belakang atau terapi fisik, untuk menghentikan atau memperlambat perkembangan skoliosis.

Program skrining skoliosis dapat diimplementasikan di sekolah-sekolah sebagai bagian dari pemeriksaan kesehatan rutin. Peran profesional kesehatan, seperti dokter sekolah, sangat penting dalam mengarahkan dan melaksanakan pemeriksaan ini. Pendidikan masyarakat juga diperlukan untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya screening skoliosis dan bagaimana hal ini dapat memberikan kontribusi pada kesehatan anak-anak.

Kesadaran orangtua tentang skoliosis dan partisipasi aktif dalam proses screening sangat penting. Melibatkan masyarakat secara luas dapat menciptakan dukungan kolektif untuk program skrining, memastikan bahwa lebih banyak anak dapat diidentifikasi dan mendapatkan perawatan yang dibutuhkan. Salah satu tantangan utama dalam pelaksanaan screening skoliosis adalah kesulitan dalam mengidentifikasi kondisi ini pada tahap awal. Skoliosis mungkin tidak selalu menyebabkan gejala yang jelas pada awal perkembangannya, sehingga dapat terlewatkan tanpa pemeriksaan yang cermat. Pemeriksaan fisik yang tidak tepat atau kurangnya pemahaman tentang tanda-tanda awal skoliosis dapat menyulitkan deteksi dini. Oleh karena itu, pelatihan dan pendidikan tambahan bagi profesional kesehatan dan pendidik tentang tanda-tanda skoliosis yang subyektif dapat membantu mengatasi tantangan ini.

Beberapa fakta penting yang menyebabkan screening skoliosis sangat penting antara lain:

  1. Scoliosis merupakan kelainan tulang belakang sebanyak 5% dari populasi nasional
  2. Kesadaran dan Pengetahuan akan scoliosis di masyarakat masih minim.
  3. Penanganan  konservatif non invasif untuk Scoliosis di Indonesia masih banyak yang tidak efektif.
  4. Pasien banyak yang mencari alternatif pengobatan selain operasi
  5. Deteksi dini skoliosis menentukan hasil terapi
  6. Usia dibawah 16 tahun adalah saat tulang masih bisa dikoreksi tanpa operasi dengan hasil yang semakin dini akan semakin maksimal.
  7. Screening yang dilakukan sekolah akan menjadi bagian dari penentuan masa depan anak .

Pemeriksaan skoliosis dengan screening dilakukan melalui dua tahap yaitu pemeriksaan fisik dan pemeriksaan X-ray. Pemeriksaan fisik dilakukan dengan mengamati punggung anak melalui pemeriksaan yang disebut dengan Adam’s Test.

Screening1

Pemeriksaan X-ray untuk melihat kondisi tulang belakang pada pasien skoliosis adalah pemeriksaan X-ray vertebra thoraco-lumbal AP dalam posisi badan berdiri (erect).

rontgen web

Pemeriksaan X-ray dalam posisi berdiri bertujuan agar kita dapat mengukur derajat kurva skoliosis dengan lebih akurat karena jika posisi X-ray pada saat berbaring tubuh kita lebih memanjang. Bagi Anda yang ingin melakukan X-ray/ rontgen ini bisa mengunjungi dokter di klinik, rumah sakit atau fasilitas rontgen lainnya dan meminta foto rontgen vertebra thoraco-lumbal AP dengan posisi berdiri. Setelah pasien diketahui mengalami skoliosis, maka perlu melakukan pemeriksaan rutin minimal setiap 6 bulan sekali.

Hal ini untuk mengetahui perkembangan tulang belakang yang dimilikinya. Sedangkan pasien Spine Clinic Family Holistic yang menjalani program pemakaian brace GBW akan dievaluasi setiap 3 bulan masa terapi yang meliputi pemeriksaan foto badan dan pemeriksaan X-ray setiap 6 bulannya. Pasien yang melakukan pemeriksaan secara rutin akan mendapatkan penanganan yang lebih baik selama perawatan karena perkembangan kondisi skoliosis dapat berubah. 

Kegiatan pemeriksaan rutin pasien brace GBW di Spine Clinic family Holistic telah kami rangkum dalam video singkat di bawah ini: