Alat-alat fisioterapi saat ini sangat populer digunakan sebagai terapi gangguan otot dan sendi di masyarakat. Ada yang menggunakan intervensi cahaya seperti inframerah, gelombang suara seperti ultrasound, dan juga yang akan dibahas di artikel ini yaitu dengan penggunaan listrik seperti TENS (Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation). Terapi dengan TENS saat ini juga tersedia yang portable dan sering digunakan sebagai modalitas terapi di rumah.

Apakah Itu Terapi TENS?

Terapi TENS merupakan suatu jenis terapi yang menggunakan aliran listrik dengan frekuensi, karakteristik, dan amplitudo tertentu yang kemudian dihantarkan melalui kulit dengan perantara bantalan elektroda atau transducer elektroda.

Terapi ini dapat menjadi salah satu alternatif terapi untuk gangguan otot dan sendi. Listrik yang dialirkan oleh alat TENS akan mempengaruhi muatan listrik yang ada pada jaringan kulit, otot, atau saraf untuk menimbulkan efek terapi sesuai dengan tujuannya.

Kegunaan Terapi TENS

  • Penguatan otot dan mencegah kelemahan otot (atrofi otot)
  • Pemendekan otot atau spasme otot
  • Kelemahan otot karena gangguan saraf
  • Mengatasi nyeri
  • Menyembuhkan peradangan karena trauma atau setelah operasi
  • Menghilangkan bengkak
  • Memperbaiki jaringan yang luka
  • Membantu mengaplikasikan obat topikal agar mencapai target terapi sehingga lebih efektif

Manfaat Terapi TENS

Terapi TENS biasanya digunakan untuk mengatasi nyeri baik yang bersifat akut maupun kronis. Elektroda ditempatkan pada kulit di dekat bagian tubuh dimana nyeri dirasakan. Listrik yang dialirkan oleh alat TENS dapat mengurangi kemampuan saraf untuk mengirimkan sinyal nyeri ke otak sehingga persepsi terhadap nyeri dapat dimodifikasi. Terapi TENS juga dipercaya dapat meningkatkan produksi endorphin, yang merupakan substansi anti-nyeri natural dalam tubuh.

Gangguan otot dan sendi yang dapat diterapi dengan TENS diantaranya:

  • Fibromialgia (nyeri pada otot dan sendi di seluruh tubuh disertai rasa lelah dan gangguan tidur)
  • Nyeri pada leher dan kaku leher
  • Nyeri punggung bawah
  • Cedera olahraga
  • Osteoarthritis (radang sendi)
  • Tendinitis (peradangan atau iritasi pada tendon)
  • Bursitis (peradangan pada kantung bantalan sekitar sendi)

Kondisi apa saja yang Menjadi Kontraindikasi Terapi TENS?

Terdapat beberapa kondisi dan penyakit yang menjadi kontraindikasi terapi TENS diantaranya:

  • Memiliki alat implan seperti alat pacu jantung, neurostimulator, alat monitor tekanan darah yang menempel pada tubuh, atau semacamnya. Listrik yang dialirkan dapat mengganggu kerja alat-alat tersebut atau berinteraksi dengan implan yang terbuat dari besi.
  • Hamil. Ibu hamil tidak boleh menggunakan alat ini pada daerah perut, pinggang, punggung bagian bawah, dan pada beberapa titik akupuntur di daerah lutut dan pergelangan kaki. Meskipun begitu terapi TENS dapat digunakan dalam proses persalinan
  • Epilepsi. Pada pasien dengan penyakit epilepsi, elektroda tidak boleh ditempelkan pada daerah kepala, leher, dan bahu sebab impuls yang diberikan dapat memicu serangan kejang.
  • Deep Vein Thrombosis (trombosis vena dalam) dan thrombophlebitis. Terapi TENS dapat meningkatkan sirkulasi darah sehingga beresiko memicu pelepasan gumpalan darah yang kemudian dapat menyumbat pembuluh darah yang lebih kecil.
  • Gangguan jantung. Elektroda tidak boleh diletakkan di dada apabila Anda memiliki penyakit gagal jantung atau gangguan ritme jantung (aritmia)

Terapi TENS tidak boleh digunakan pada leher depan bagian luar (daerah sinus karotis) karena dapat menyebabkan penurunan tekanan darah secara tiba-tiba.

Sebagai tambahan, terapi TENS dapat dilakukan pada kondisi berikut ini namun harus dengan pengawasan ketat:

  • Jaringan yang terinfeksi seperti pada kasus osteomyelitis (infeksi tulang) atau tuberkulosis pada kulit. Penggunaan TENS dapat membuat infeksi menyebar
  • Kanker. Elektroda tidak boleh diaplikasikan pada daerah yang terkena kanker atau dicurigai terkena kanker. Selain itu, TENS juga sebaiknya tidak dilakukan pada pasien yang dicurigai memiliki penyakit kanker yang belum terdiagnosa atau pada pasien dengan riwayat kanker dalam 5 tahun terakhir kecuali dengan anjuran dari dokter
  • Luka terbuka atau terdapat iritasi pada kulit
  • Gangguan sensibilitas seperti sulit membedakan panas dan dingin
  • Pada orang yang memiliki gangguan mental atau kesulitan untuk berkomunikasi sehingga tidak dapat memberikan umpan balik untuk memastikan terapi TENS berjalan dengan aman dan nyaman

Kelebihan Dan Kekurangan Terapi TENS?

Terapi TENS merupakan terapi yang tidak invasif sehingga resiko seperti infeksi dapat ditekan. Untuk mengatasi nyeri, terapi ini dapat digunakan secara tunggal atau dikombinasikan dengan obat antinyeri lainnya. Bila kombinasi terapi menjadi pilihan, jumlah obat antinyeri yang perlu dikonsumsi menjadi berkurang dengan adanya terapi TENS ini. Tetap konsultasikan pada dokter agar dosis dari semua jenis terapi sesuai dengan yang Anda butuhkan.

Di samping kelebihannya yang membuat Anda sangat nyaman, terdapat kekurangan dari terapi ini yang ditimbulkan dari efek sampingnya. Beberapa pasien alergi terhadap bahan perekat pada bantalan elektroda atau gel yang digunakan sebagai pelumas.

Tampilan pada kulit menjadi kemerahan dan gatal juga dirasakan pada mereka yang alergi terhadap bahan-bahan ini. Pada beberapa kasus, luka bakar ditemukan pada kulit tempat elektroda menempel. Selain itu, terapi TENS ini dapat membuat penggunanya merasakan sensasi nyeri menggelitik setiap impuls dicetuskan oleh alat. Beberapa orang tidak nyaman dengan sensasi yang ditimbulkan ini.