skoliosis punggung

Skoliosis merupakan kelainan tiga dimensi pada tulang belakang, dimana tulang belakang tidak hanya melengkung ke samping, tetapi juga mengalami rotasi (twist). Operasi skoliosis punggung akan dibahas lebih lanjut. Rotasi ini dapat terlihat jelas saat pemeriksaan Adam’s test, yaitu saat pasien diminta membungkuk ke depan, kemudian dilihat dari belakang pasien, akan tampak punuk (hump) pada salah satu sisi skoliosis punggung yang lebih tinggi dari sisi lainnya.

Skoliosis dapat dibedakan menjadi ringan (mild), sedang (moderate), dan berat (severe) berdasarkan besarnya derajat kelengkungan kurva, yang biasanya disebut sebagai Cobb’s Angle. Cobb’s angle sebesar 10o sampai 24o dikategorikan sebagai skoliosis ringan (mild). Cobb’s angle sebesar 25osampai 40o dikategorikan sebagai skoliosis sedang (moderate). Sedangkan, Cobb’s angle lebih dari 40odikategorikan sebagai skoliosis berat (severe).

Skoliosis idiopatik merupakan skoliosis yang paling umum ditemukan, terutama pada anak-anak dan remaja. Istilah idiopatik artinya belum ditemukan penyebab yang jelas. Pada masa puber, dimana pertumbuhan tulang dan tinggi badan sangat pesat, risiko progresi derajat kelengkungan kurva skoliosis juga sangat besar. Hal ini tentu berbahaya jika skoliosis terlambat dideteksi dan ditangani.

Operasi Skoliosis Punggung dalam Studi Kasus

Manajemen kasus skoliosis punggung meliputi observasi (pengamatan), fisioterapi, latihan fisik, bracing, dan operasi. Pada umumnya, dokter akan merekomendasikan pasien dengan skoliosis ringan untuk observasi dan fisioterapi (jika ada keluhan nyeri). Pasien dengan derajat skoliosis sedang akan direkomendasikan untuk memakai brace (untuk mencegah progresi kurva), latihan fisik, dan diobservasi apakah terjadi progresi derajat kurva yang besar sehingga memerlukan operasi. Sedangkan, pasien dengan derajat skoliosis berat biasanya direkomendasikan oleh dokter bedah tulang untuk menjalani operasi scoliosis.

Banyak faktor yang harus dipertimbangkan dalam menentukan manajemen dan terapi yang tepat untuk pasien skoliosis. Selain melihat besarnya derajat kelengkungan kurva (Cobb’s angle) dan tingkat keparahannya, juga perlu memperhatikan usia pasien.

Pada pasien usia 10-14 tahun, dimana sedang terjadi masa pertumbuhan yang pesat (growth spurt), jenis bracing rigid yang tepat dapat menjadi sangat efektif sebagai terapi korektif skoliosis. Pemakaian brace GBW (Gensingen Brace according to dr. Weiss) yang konsisten 22 jam sehari pada pasien usia tersebut, terbukti dapat mengkoreksi hingga 50% atau lebih derajat kelengkungan kurva awal (Cobb’s angle).

Sedangkan, pada kelompok usia yang sama (usia pubertas), operasi dapat menjadi berdampak buruk jika dilakukan saat pertumbuhan masih terjadi. Salah satu komplikasi yang dapat terjadi setelah operasi scoliosis pada pasien usia puber adalah “crankshaft phenomenon”. Crankshaft phenomenon adalah fenomena yang terjadi paska operasi scoliosis, dimana pertumbuhan dan rotasi tulang belakang masih terjadi pada tulang belakang yang sudah dipasang pelat metal atau sekrup. Operasi paling baik dilaksanakan setelah pasien berusia 16 tahun, dimana kematangan tulang (maturitas skeletal) diharapkan sudah terjadi dan pertumbuhan sudah berhenti.

Pada beberapa kasus operasi skoliosis punggung yang dilakukan pada usia dewasa, juga ditemukan kondisi punuk di punggung yang menetap paska operasi. Punuk tampak di bagian punggung (skoliosis punggung) karena tulang belakang tidak hanya membengkok ke samping, tetapi juga mengalami rotasi (twist). Operasi tidak serta merta dapat mengkoreksi total rotasi tersebut. Akibatnya, paska operasi, masih tampak punuk di bagian punggung (skoliosis punggung). Hal ini yang biasanya menjadi keluhan beberapa pasien paska operasi scoliosis.

pen skoliosis

Pada operasi scoliosis, dipasang sekrup dan pelat metal pada segmen-segmen tulang belakang yang membengkok dengan tujuan mengurangi besarnya derajat kelengkungan kurva dan mempertahankan tulang belakang stabil pada posisi koreksi tersebut. Adanya sekrup dan pelat metal tersebut tentunya akan mempengaruhi kelenturan atau fleksibilitas tulang belakang. Paska operasi, biasanya pasien akan mengalami keterbatasan untuk melakukan gerakan-gerakan tertentu yang melibatkan tulang belakang.

Apa Penyebab Pen Tulang Menonjol?

Penyebab penonjolan tulang dapat bervariasi tergantung pada kondisi kesehatan spesifik seseorang. Satu kondisi yang dapat menyebabkan penonjolan tulang adalah skoliosis, yaitu kelainan tulang belakang yang ditandai oleh lengkungan lateral tulang belakang. Selain itu, beberapa kondisi lain yang dapat menyebabkan penonjolan tulang melibatkan perubahan atau kelainan pada struktur tulang atau jaringan sekitarnya. Beberapa contoh lainnya melibatkan:

1. Kifosis: Kifosis adalah kelainan pada tulang belakang yang menyebabkan punggung bungkuk ke depan. Ini dapat menyebabkan penonjolan atau tonjolan pada bagian tengah atau atas punggung.
2. Tumor Tulang: Adanya tumor tulang baik yang bersifat jinak maupun ganas dapat menyebabkan penonjolan tulang. Tumor dapat mempengaruhi pertumbuhan dan bentuk tulang.
3. Osteoporosis: Osteoporosis adalah kondisi di mana tulang menjadi rapuh dan mudah patah. Meskipun tidak selalu menyebabkan tonjolan yang tampak, osteoporosis dapat menyebabkan perubahan bentuk tulang dan penonjolan yang lebih terasa.
4. Hernia Discus: Pada tulang belakang, cakram intervertebral yang mengalami herniasi dapat menekan saraf atau struktur lainnya, menyebabkan penonjolan yang terasa.
5. Ankylosing Spondylitis: Ini adalah bentuk arthritis yang dapat menyebabkan peradangan pada sendi-sendi tulang belakang dan menyebabkan penonjolan atau kelainan bentuk.
6. Trauma atau Cedera: Cedera atau trauma pada tulang belakang, misalnya akibat kecelakaan, dapat menyebabkan penonjolan atau kelainan bentuk tulang.
Penting untuk dicatat bahwa penonjolan tulang bisa menjadi gejala dari berbagai kondisi yang mungkin memerlukan perhatian medis. Jika seseorang mengalami penonjolan tulang yang tidak biasa atau disertai gejala lain, sebaiknya mereka berkonsultasi dengan dokter untuk diagnosis dan penanganan yang tepat.

Penonjolan tulang dapat terkait erat dengan skoliosis punggung, sebuah kondisi kelainan tulang belakang yang sering kali memengaruhi postur dan bentuk tulang belakang. Skoliosis sendiri ditandai oleh lengkungan lateral abnormal tulang belakang, menciptakan kurva yang tidak wajar. Dalam konteks skoliosis, penonjolan tulang dapat muncul sebagai hasil dari lengkungan yang terbentuk.

Pada penderita skoliosis punggung, terjadi kelainan bentuk pada tulang belakang, dan penonjolan dapat terjadi pada bagian tulang belakang yang mengalami tekanan atau perubahan struktural. Misalnya, pada skoliosis punggung, tonjolan mungkin terlihat lebih jelas pada bagian tulang belakang yang melengkung. Tonjolan ini dapat terlihat atau terasa sebagai bagian dari punggung yang menonjol keluar atau mengalami deformitas.

Selain itu, penonjolan tulang pada penderita skoliosis bisa muncul sebagai respons terhadap upaya tubuh untuk menyeimbangkan kurva tulang belakang yang tidak normal. Otot-otot dan struktur penyangga tulang belakang dapat mengalami penyesuaian atau penonjolan sebagai mekanisme adaptasi.

Dapatkan solusi terbaik dengan berkonsultasi ke dokter Spine Clinic Jakarta. Segera hubungi kami untuk konsultasi dan pengobatan yang tepat. Mulailah perjalanan menuju kesehatan tulang belakang optimal Anda!

Download E-book - Mengenal Skoliosis dan Terapinya

WhatsApp us
Malcare WordPress Security