Apakah yang dimaksud HNP Cervical itu?

Hernia nucleus pulposus (HNP) adalah kondisi dimana terdapat penonjolan pada bantalan sendi pada ruas tulang belakang yang menyebabkan terjepitnya saraf. Kondisi ini biasa terjadi terutama pada bagian punggung bawah (HNP Lumbal) dan leher (HNP servikal). HNP servikal sering ditemukan pada usia tua sekitar 30-50 tahun. Kejadian HNP ditemukan pada populasi sebanyak 85 orang tiap 100.000 penduduk. Jika mengalami HNP servikal, seseorang dapat mengalami mulai dari gejala ringan seperti leher terasa kaku hingga gejala berat seperti kelumpuhan.

Apa saja faktor risiko terjadinya Saraf Kejepit di Leher?

Beberapa faktor risiko terjadinya HNP servikal, diantaranya sebagai berikut:

  • Usia tua. HNP servikal terjadi relatif sering pada usia > 30 tahun. Hal ini diakibatkan adanya proses penuaan (degeneratif) yang ditandai berkurangnya elastisitas bantalan sendi yang diakibatkan oleh berkurangnya cairan tubuh.
  • Genetik. Seseorang yang memiliki keluarga khususnya orang tua dengan HNP servikal akan lebih berisiko terkena kondisi serupa.
  • Riwayat trauma akut. Beberapa trauma akut seperti pada tabrakan mobil atau motor yang mengakibatkan kepala secara tiba-tiba dan mendadak kearah belakang dapat mengakibatkan HNP servikal, bahkan hingga patah pada ruas tulang belakang.
  • Riwayat trauma kronis. Riwayat trauma sebelumnya yang mengenai daerah leher dapat membuat ruas tulang belakang menjadi tidak stabil sehingga meningkatkan kemungkinan terjadinya HNP servikal.
  • Ergonomik kebiasaan dan pekerjaan. Beberapa aktivitas sehari-hari membuat leher dan kepala menunduk seperti pada saat bermain smartphone atau bekerja di depan komputer terlalu lama. Disamping itu, dapat pula terjadi pada seseorang yang terbiasa menaruh beban berat pada daerah kepala atau leher seperti penjual sate, dan lain lain.

Apa saja gejala yang ditimbulkan HNP Cervical atau Saraf Kejepit di Leher?

  • Nyeri kepala terutama pada bagian belakang.
  • Nyeri punggung bagian atas diantara kedua tulang belikat.
  • Nyeri leher, nyeri pada salah satu lengan, rasa kebas atau kesemutan pada salah satu lengan sesuai dengan dermatome (daerah bagian tubuh yang sesuai dengan distribusi persarafan)
  • Kelemahan pada salah satu lengan.
  • Dapat terjadi penjalaran nyeri, kebas, dan kesemutan mulai dari leher, lengan, hingga ujung jari-jari tangan.
  • Pada kasus yang lebih berat, dapat terjadi penekanan pada sumsum tulang belakang yang mengakibatkan rasa nyeri, kebas, kesemutan, hingga kelemahan yang menjalar bahkan hingga kedua kaki.

Leher HNP

Pemeriksaan apa saja yang akan dilakukan oleh Dokter pada Saraf Kejepit di Leher?

Selain pemeriksaan fisik, Dokter mungkin akan memerlukan pemeriksaan penunjang untuk memastikan diagnosis dan mengetahui lebih lanjut struktur anatomi yang terganggu. Beberapa pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan meliputi:

  1. X-Ray (Rontgen) Servikal. Pemeriksaan ini dapat dilakukan sebagai skrining awal untuk menghilangkan kemungkinan diagnosis lain seperti trauma, infeksi, atau tumor pada ruas tulang belakang.
  2. MRI Servikal. Pemeriksaan ini spesifik untuk menilai herniasi (penonjolan) dari bantalan sendi karena hubugnan antara gambaran bantalan sendi dan sumsum tulang.
  3. Pemeriksaan khusus lainnya seperti CT Scan, myelogram, nerve conduction study, dan electromyography.

Apa saja Pilihan Terapi untuk Saraf Kejepit di Leher?

Secara umum, pilihan terapi meliputi terapi konservatif dan terapi pembedahan. Terapi konservatif merupakan lini pertama pengobatan sedangkan terapi pembedahan diindikasikan pada pasien yang tidak tertolong pengobatan konservatif selama 3 bulan, pasien dengan kondisi yang berat atau membutuhkan dekompresi segera.

Beberapa pilihan terapi konservatif yang harus dilakukan secara bersamaan dan berkelanjutan meliputi:

  • Modifikasi aktivitas/gaya hidup. Pada prinsipnya yakni menghindari aktivitas yang memprovokasi nyeri seperti olahraga berat, gerakan leher kearah bagian leher yang nyeri. Memodifikasi posisi tidur dengan posisi bantal kecil pada punggung.
  • Pemberian obat. Biasanya, dokter akan memberikan obat anti inflamasi non-steroid (OAINS) atau muscle relaxant.
  • Fisioterapi. Pada prinsipnya berupa latihan peregangan dan penguatan otot (stretching and strengthening exercise). Latihan khusus akan diberikan oleh fisioterapis untuk menjaga otot leher supaya tetap rileks dan kuat.
  • Penyuntikan steroid. Bertujuan untuk mengurangi nyeri dan peradangan. Tetapi, penggunaaanya masih kontroversial karena pemberian injeksi steroid dalam jangka waktu panjang dapat meningkatkan risiko kerusakan sendi.
  • Ice or heat therapy. Pada beberapa kasus, pemberian kompres dingin atau hangat selama 15-20 menit dapat mengurangi nyeri. Penting untuk memberikan interval 2 jam pada setiap kompres, untuk mengurangi risiko luka pada kulit.

Jika setelah melakukan terapi konservatif secara optimal, keluhan tidak mengalami perbaikan, atau terjadi penurunan fungsi saraf secara cepat dan mendadak, Dokter mungkin akan merekomendasikan untuk melakukan terapi pembedahan atau operasi. Terapi pembedahan meliputi pemasangan plat, penggantian bantalan sendi, hingga melakukan pengikisan pada bantalan sendi.

Download E-book - Mengenal Skoliosis dan Terapinya

WhatsApp us
Malcare WordPress Security